Opini : Ayo Membaca!
Oleh : Zeni Isfranto, SE *)
Kabarlamongan.com : Pucuk - Seiring majunya ilmu
pengetahuan dan teknologi (IPTEK) tidak hanya dampak positif yang dapat
dirasakan oleh semua orang seperti kemudahan akses informasi dan
komunikasi akan tetapi disisi lain begitu banyak dampak negatif yang
meramba ke semua garis kehidupan sehari-hari salah satunya adalah budaya
membaca yang sudah mulai terkikis dan nyaris punah. Hal ini juga sudah
menjadi virus y ang menular pada peserta didik kita.Budaya membaca buku sudah sangat langkah kita jumpai, dimana-mana anak-anak lebih cenderung hobi membaca SMS dari pada membaca buku dan lebih banyak menghambur-hamburkan uang jajan hanya sekedar untuk mengisi HP yang sedang haus dan lapar alias kehabisan pulsa dari pada menyisihkan uang jajan untuk membeli buku bacaan.
Bukankah membaca buku adalah sumber dan kunci ilmu pengetahuan yang menjadi pelita untuk memasuki pintu gerbang menuju cita-cita dan masa depan yang cemerlang, tapi mengapa kita melupakannya ? Kita jadikan membaca adalah suatu kebudayaan atau kebiasaan sehingga dengan kebiasaan itu maka budaya membaca akan menjadi kebutuhan kita. Semua ini akan bisa terwujud jika semua lapisan masyarakat berpartisipasi untuk membudayakan membaca buku khususnya untuk anak didik kita mulai dari peran pemerintah, peran guru dan peran orang tua. Sehingga dengan demikian cita-cita untuk membentuk suatu generasi yang hobi membaca akan tercapai.
Membudayakan membaca itu sama dengan membiasakan diri untuk membaca. Untuk membentuk kebiasaan, tidak ada cara lain kecuali berbuat (action). Itulah maksud ungkapan “ala bisa karena biasa.” Dengan sedikit demi sedikit melatih diri untuk membiasakan diri untuk membaca maka aktivitas itu akan menjadi suatu kebiasaan.
Budaya membaca buku telah memposisikan pecintanya ke jalur yang tepat untuk maju dan berkembang. Yang lebih utama adalah kita sadar bahwa budaya membaca ini merupakan salah satu faktor kunci kemajuan pendidikan, peradaban, serta ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK). Bangsa Jepang telah membuktikannya. Dengan minat baca masyarakatnya yang rakus dan lahab, Jepang negara kecil mampu bangkit dari keterpurukan pada masa perang dunia II. Jepang telah membuktikan pada dunia bahwa berbekal ilmu pengetahuan dan teknologi, dunia Barat berhasil ditaklukkan olehnya pada masa itu.
Dunia Islam bahkan telah menunjukkannya beberapa abad sebelum itu. Lewat perintah Allah untuk membaca, lahirlah para ilmuwan Islam yang rakus membaca. Tidak hanya membaca, mereka pun menulis berbagai karya intelektual yang mengagumkan. Kita pun mengenang bagaimana warisan peradaban islam telah meninggalkan jejak-jejak menuju renaisance Eropa. Maukah kita mendapat giliran itu? Kuncinya adalah budayakan membaca mulai dari diri sendiri , mulai dari membaca buku kecil dan mulai dari sekarang (3M).
Dengan membaca buku
Bertambah ilmu,
Dengan membaca buku
Bertambah tahu,
Dengan membaca buku
Bertambah maju
Insysa Allah …..
*) Penulis adalah Ustadz Madin “Nurussalam” Tanggungan - Pucuk
Rabu, 28 Mei 2014
Read more...
Opini : Politik Munafik Menjelang Pilpres
Kabarlamongan.com : Lamongan - SECARA umum, munafik bisa diartikan, ”tidak samanya perkataan dengan tindakan ” atau hipokrit. Rasulallah SAW menyebut tiga tanda orang munafik: Apabila berjanji ia ingkari; Apabila dipercaya ia berkhianat; Apabila berbicara ia bohong”.
Begitu nistanya sifat munafik, sehingga ia dimasukkan ke dalam golongan pertama yang di hari akhirat nanti akan dimasukkan kedalam Neraka Jahanam yang paling bawah sekekal-kekalnya, selama-lamanya, lebih azab daripada orang-orang kafir.
Ironinya, justru di kancah perpolitikan kita, sifat dan sikap munafik itu tumbuh subur. Mereka bangga pada karir politiknya yang berhasil ‘dibalut’ kemunafikan. Seharusnya, sebagai elit politik, janganlah tinggalkan jiwa dan spirit agama yang diyakininya, hanya karena tuntutan gaya hidup, dan jiwa serakah.
Kecenderungan politik saat ini, terjadi kemunafikan yang dikamuflase sebagai euforia. Mencari simpati dan dukungan dari masyarakat untuk kepentingan sesaat, dan akan menimbulkan penderitaan berkepanjangan.
Kemunafikan biasanya menumbuhkan sikap politik yang plin-plan dan mencla-mencle. Bahkan dalam bertindakpun tak segan-segan menempuh penghalalan segala cara, untuk semata-mata kepentingan diri dan kelompoknya.
Idealisme parpol terlihat saat kampanye, dengan menggadang-gadang penderitaan dan kesejahteraan rakyat akan dituntaskan partainya bila berkuasa. Namun, dalam prakteknya parpol menjalankan transaksi-transaksi politik. Jelas ini kemunafikan. Tidakkah sifat dan laku seperti ini kita takuti?
Bagi seorang politisi, jiwa keagamaan, ideologi Pancasila, Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), dan UUD 1945, harus tetap dijaga dan dikawal. Jangan sekali-kali goyah hanya karena godaan pihak asing dengan iming-iming gaya hidup munafik serba materi, yang pasti akan membuat rakyat miskin dan sengsara.
Orang-orang munafik itu sungguh tidak bermutu. Meski berpenampilan mentereng, gaya bicaranya mengagumkan, tapi tidak punya pendirian. Mereka suka pamer, memperlihatkan kebaikan-kebaikannya. Orang munafik itu suka sekali dipuji dan disanjung. Introspeksilah, apakah kita masuk dalam gambaran orang-orang munafik? Bila ya, segeralah buang jauh-jauh sifat munafik, penuh kepalsuan itu.
Pasca Pemilu 2014, banyak calon incumbent yang rontok, digantikan wajah-wajah baru. Kita tidak tahu penyebab tidak terpilihnya kembali mereka. Apakah itu hukuman dari rakyat pemilihnya, atau sebab lainnya.
Bagi mereka yang ‘kurang’ terima musibah ini, ada melontarkan isu kuatnya money politics yang diusung pesaingnya. Tidak mau jujur, karena kurangnya memperhatikan rakyat pendukungnya. Inilah sikap munafik dalam berpolitik.
Padahal, bila sadar dan mau mengambil hikmahnya, kinilah saat terbaik baginya untuk ikhlas meninggalkan gaya hidup gila hormat dan cenderung munafik. Bersuara vokal di parlemen, tapi tidak jelas arahnya, karena bukan memperjuangkan aspirasi maupun kepentingan rakyat yang dibelanya. Begitu pun bagi mereka yang terpilih menjadi politisi, juga harus ikhlas atas segala jerih payah perjuangan dan materi yang telah dikeluarkannya. Jangan ada lagi sikap mengharapkan segala ‘biaya’ itu balik modal plus keuntungannya.
Harapan kita kepada politisi muda, agar dalam berpolitik dan berdemokrasi mengedepankan moral bangsa. Dalam berjuang, utamakan kepentingan seluruh rakyat, martabat dan harkat bangsa Indonesia. Bukan kelompok, partai, apalagi negara lain. Jauhi dan hindari perilaku politik munafik. Bila kita kerja dengan sepenuh hati demi seluruh tumpah darah Indonesia, Insya Allah bangsa kita akan maju dan sejahtera.
Jelang Pilpres
PERILAKU politikus papan atas hari-hari ini sangat unik. Berlatar-belakang ambisi menggebu untuk meraih kekuasaan, menyepelekan sorot mata publik.
Dalam hitungan jam atau hari berubah perangai. Semula berseberangan, alih-alih rangkulan sambil senyum ceria untuk koalisi.
Politikus yang telah menyatakan kompak sambil mengacungkan kepalan tangan di depan massa menandai persekutuan, tiba-tiba buyar. Ada pula di antaranya yang tak kapok kalah bertarung.
Julukan negarawan bukanlah jaminan berkarakter bijak. Prestasinya juga diakui hebat oleh dunia saat menangani konflik Aceh. Eh… sekarang tergiur sorong kanan-sorong kiri. Ingin jadi penguasa lagi!
Sang ketua partai besar sejak dini pengen jadi presiden ternyata sosok yang lemah. Di kalangan internal saja banyak yang hendak mendongkel pencapresannya.
Ketua partai berikut adalah terkenal tegas dan konsisten. Kini kena angin semilir, sehingga balik arah memuji-muji figur politisi yang pernah dicercanya dengan harapan kelak kebagian kursi di kementerian tanpa peduli perolehan suara partai tergolong kecil.
Turut terlibat di dalam keunikan yaitu politikus kelas jempolan. Sukses ketika memimpin lembaga penegakan hukum bergengsi. Sekarang latah sanjung menyanjung sosok beda partai yang dianggap bakal memenangi pemilihan presiden (pilpres). Maksudnya tak jauh dari harapan kebagian kekuasaan.
Ada pula yang tak kalah menarik yaitu politisi berstatus kepala daerah. Awal penampakan lugu, ramah dan sering bertutur bahasa Jawa, ora popo. Belakangan tega-teganya mengabaikan janji lima tahun mengabdi kepada warganya. Ia loncat ke panggung utama untuk berebut kekuasaan yang lebih besar.
Prilaku lain yang membuat kita terperangah juga muncul menjelang pilpres. Walau sudah 10 tahun berkuasa menggantikan dan tak omong-omongan, kini mirip bocah merengek minta jumpa ibu yang notabonenya asalah ketua partai pemenang pemilihan umum legislatif. Alamak..!
Kita sah-sah saja membaca di balik itu terkandung maksud tawar-menawar kekuasaan masa mendatang. Padahal lebih tepat menempatkan diri sebagai oposisi bila jagoan hasil konvensi partainya tak bisa jadi presiden.
Saking mudah disaksikan, maka tanpa menyebut nama satu per satu pun sudah gamblang siapakah mereka gerangan?
Menurut hemat penulis, Indonesia ke depan butuh presiden berkarakter kuat dan tangguh guna merealiasikan visi-misinya menyejahterakan rakyat. Koalisi partai dibangun hanya sebatas untuk memenuhi persyaratan administratif pilpres. Bukan diawali bagi-bagi kekuasaan.
Kapan dan dimana pun akibat persekutuan politik dagang sapi yang menanggung kerugian adalah rakyat. Kerja presiden tidak efektif dirongrong kawanan politikus ambisius!

Oleh: Nur Qomar Hadi,S.Ag
Penulis,Aktif sebagai Jurnalis dan Guru SMK NU Lamongan
Begitu nistanya sifat munafik, sehingga ia dimasukkan ke dalam golongan pertama yang di hari akhirat nanti akan dimasukkan kedalam Neraka Jahanam yang paling bawah sekekal-kekalnya, selama-lamanya, lebih azab daripada orang-orang kafir.
Ironinya, justru di kancah perpolitikan kita, sifat dan sikap munafik itu tumbuh subur. Mereka bangga pada karir politiknya yang berhasil ‘dibalut’ kemunafikan. Seharusnya, sebagai elit politik, janganlah tinggalkan jiwa dan spirit agama yang diyakininya, hanya karena tuntutan gaya hidup, dan jiwa serakah.
Kecenderungan politik saat ini, terjadi kemunafikan yang dikamuflase sebagai euforia. Mencari simpati dan dukungan dari masyarakat untuk kepentingan sesaat, dan akan menimbulkan penderitaan berkepanjangan.
Kemunafikan biasanya menumbuhkan sikap politik yang plin-plan dan mencla-mencle. Bahkan dalam bertindakpun tak segan-segan menempuh penghalalan segala cara, untuk semata-mata kepentingan diri dan kelompoknya.
Idealisme parpol terlihat saat kampanye, dengan menggadang-gadang penderitaan dan kesejahteraan rakyat akan dituntaskan partainya bila berkuasa. Namun, dalam prakteknya parpol menjalankan transaksi-transaksi politik. Jelas ini kemunafikan. Tidakkah sifat dan laku seperti ini kita takuti?
Bagi seorang politisi, jiwa keagamaan, ideologi Pancasila, Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), dan UUD 1945, harus tetap dijaga dan dikawal. Jangan sekali-kali goyah hanya karena godaan pihak asing dengan iming-iming gaya hidup munafik serba materi, yang pasti akan membuat rakyat miskin dan sengsara.
Orang-orang munafik itu sungguh tidak bermutu. Meski berpenampilan mentereng, gaya bicaranya mengagumkan, tapi tidak punya pendirian. Mereka suka pamer, memperlihatkan kebaikan-kebaikannya. Orang munafik itu suka sekali dipuji dan disanjung. Introspeksilah, apakah kita masuk dalam gambaran orang-orang munafik? Bila ya, segeralah buang jauh-jauh sifat munafik, penuh kepalsuan itu.
Pasca Pemilu 2014, banyak calon incumbent yang rontok, digantikan wajah-wajah baru. Kita tidak tahu penyebab tidak terpilihnya kembali mereka. Apakah itu hukuman dari rakyat pemilihnya, atau sebab lainnya.
Bagi mereka yang ‘kurang’ terima musibah ini, ada melontarkan isu kuatnya money politics yang diusung pesaingnya. Tidak mau jujur, karena kurangnya memperhatikan rakyat pendukungnya. Inilah sikap munafik dalam berpolitik.
Padahal, bila sadar dan mau mengambil hikmahnya, kinilah saat terbaik baginya untuk ikhlas meninggalkan gaya hidup gila hormat dan cenderung munafik. Bersuara vokal di parlemen, tapi tidak jelas arahnya, karena bukan memperjuangkan aspirasi maupun kepentingan rakyat yang dibelanya. Begitu pun bagi mereka yang terpilih menjadi politisi, juga harus ikhlas atas segala jerih payah perjuangan dan materi yang telah dikeluarkannya. Jangan ada lagi sikap mengharapkan segala ‘biaya’ itu balik modal plus keuntungannya.
Harapan kita kepada politisi muda, agar dalam berpolitik dan berdemokrasi mengedepankan moral bangsa. Dalam berjuang, utamakan kepentingan seluruh rakyat, martabat dan harkat bangsa Indonesia. Bukan kelompok, partai, apalagi negara lain. Jauhi dan hindari perilaku politik munafik. Bila kita kerja dengan sepenuh hati demi seluruh tumpah darah Indonesia, Insya Allah bangsa kita akan maju dan sejahtera.
Jelang Pilpres
PERILAKU politikus papan atas hari-hari ini sangat unik. Berlatar-belakang ambisi menggebu untuk meraih kekuasaan, menyepelekan sorot mata publik.
Dalam hitungan jam atau hari berubah perangai. Semula berseberangan, alih-alih rangkulan sambil senyum ceria untuk koalisi.
Politikus yang telah menyatakan kompak sambil mengacungkan kepalan tangan di depan massa menandai persekutuan, tiba-tiba buyar. Ada pula di antaranya yang tak kapok kalah bertarung.
Julukan negarawan bukanlah jaminan berkarakter bijak. Prestasinya juga diakui hebat oleh dunia saat menangani konflik Aceh. Eh… sekarang tergiur sorong kanan-sorong kiri. Ingin jadi penguasa lagi!
Sang ketua partai besar sejak dini pengen jadi presiden ternyata sosok yang lemah. Di kalangan internal saja banyak yang hendak mendongkel pencapresannya.
Ketua partai berikut adalah terkenal tegas dan konsisten. Kini kena angin semilir, sehingga balik arah memuji-muji figur politisi yang pernah dicercanya dengan harapan kelak kebagian kursi di kementerian tanpa peduli perolehan suara partai tergolong kecil.
Turut terlibat di dalam keunikan yaitu politikus kelas jempolan. Sukses ketika memimpin lembaga penegakan hukum bergengsi. Sekarang latah sanjung menyanjung sosok beda partai yang dianggap bakal memenangi pemilihan presiden (pilpres). Maksudnya tak jauh dari harapan kebagian kekuasaan.
Ada pula yang tak kalah menarik yaitu politisi berstatus kepala daerah. Awal penampakan lugu, ramah dan sering bertutur bahasa Jawa, ora popo. Belakangan tega-teganya mengabaikan janji lima tahun mengabdi kepada warganya. Ia loncat ke panggung utama untuk berebut kekuasaan yang lebih besar.
Prilaku lain yang membuat kita terperangah juga muncul menjelang pilpres. Walau sudah 10 tahun berkuasa menggantikan dan tak omong-omongan, kini mirip bocah merengek minta jumpa ibu yang notabonenya asalah ketua partai pemenang pemilihan umum legislatif. Alamak..!
Kita sah-sah saja membaca di balik itu terkandung maksud tawar-menawar kekuasaan masa mendatang. Padahal lebih tepat menempatkan diri sebagai oposisi bila jagoan hasil konvensi partainya tak bisa jadi presiden.
Saking mudah disaksikan, maka tanpa menyebut nama satu per satu pun sudah gamblang siapakah mereka gerangan?
Menurut hemat penulis, Indonesia ke depan butuh presiden berkarakter kuat dan tangguh guna merealiasikan visi-misinya menyejahterakan rakyat. Koalisi partai dibangun hanya sebatas untuk memenuhi persyaratan administratif pilpres. Bukan diawali bagi-bagi kekuasaan.
Kapan dan dimana pun akibat persekutuan politik dagang sapi yang menanggung kerugian adalah rakyat. Kerja presiden tidak efektif dirongrong kawanan politikus ambisius!

Oleh: Nur Qomar Hadi,S.Ag
Penulis,Aktif sebagai Jurnalis dan Guru SMK NU Lamongan
Baca Juga : PMII dan GMNI Desak Timsel KPUD Lamongan Dibubarkan
Selasa, 13 Mei 2014
Read more...
Teater Untuk Bangsa
Garis Besar Manfaat Teater
Kabarlamongan.com : Babat - Konsep kehidupan dapat kita pelajari dengan belajar bermain teater. Penempatan Sutradara sebagai pengatur segala sesuatu mengenai pementasan selayaknya Tuhan yang mengatur kehidupan. Keaktoran yang tidak muncul secara instant dan harus melalui belajar panjang mengenai dasar-dasar keaktoran, sangat sama seperti manusia yang harus belajar bagaimana kita harus merasa, bergerak, berucap dan menempatkan Tuhan sebagai pokok segala hal. Juga mengenai artistik yang dapat diimplementasikan untuk kita bisa menghargai alam sekitar dan menempatkan diri kita dimanapun berada. Karena dunia adalah panggung, kita manusia adalah pemain atau aktornya, sedang Tuhanlah sang Sutradara. “Belajar teater sama dengan belajar hidup” kata Mbah Tohir Srimulat yang juga aktifis teater.
Wajah Pendidikan Kita
Berbicara pendidikan, siapapun tentu setuju jika pendidikan adalah fondamen kehidupan. Akan tetapi keluarga, sekolah, dan peserta didik itu sendiri sering kali salah dalam mengartikan pendidikan.
Orang tua menyekolahkan dan mendidik anak agar menjadi anak yang pintar, dapat meraih cita-cita, dan memperoleh pekerjaan yang menjajikan ketika ia sudah dewasa, memberi hadiah dan menyanjung anak jika juara kelas. Kemudian di sekolah atau kampus lebih menitikberatkan pendidikannya kearah akademik, mengarahkan dan mencetak siswa atau mahasiswanya agar siap bekerja. Bahkan miris, banyak oknum pendidik yang menjadikan dunia pendidikan sebagai ladang pencari penghasilan, hanya mengejar sertifikasi atau jadi PNS, memperbanyak jam mengajar, datang, menyampaikan materi, pelajaran habis, selesai, dapat honor. Sedangkan para peserta didik hanya beranggapan berangkat ke sekolah atau kampus hanya untuk formalitas kehidupan, atau hanya mengejar nilai baik, ada juga yang lebih lumayan, mereka mengejar ijazah untuk memperoleh pekerjaan yang layak untuk kehidupannya kelak.
Seorang Anhar Gonggong (Sejarawan Nasional) dalam sebuah Seminar Budaya pun pernah berkata “Pendidikan kita saat ini mendidik para siswa dan mahasiswa menjadi orang-orang yang berpikiran cetek lulus, dapat ijazah, bekerja, selesai. Lalu bagaimana nasib bangsa ini jika para generasi penerus ketika menuntut ilmu hanya berorientasi pada pekerjaan yang layak”.
Begitu setidaknya fenomena yang terjadi di pendidikan kita.
Berkaca Kepada Keadaan Negeri
Seperti bom waktu yang siap meledak dan menghancurkan apa saja kapanpun juga. Atau seperti kanker serviks yang tidak terlihat gejala-gejalanya, dan hanya baru dapat diketahui ketika si penderita sudah sampai pada titik kritis.
Begitu mungkin untuk menggambarkan keadaan negeri ini. Sistem yang terjadi di segala hal berjalan rancu tanpa disadari dan dideteksi, hanya dapat diketahui ketika korupsi, kolusi, nepotisme terjadi di semua lapisan masyarakat. Pejabat, petugas keamanan, penindak hukum, sampai petani. Hanya dapat diketahui bahwa sistem itu rancu ketika kekerasan atau tawuran juga terjadi di kalangan mulai anak SD sampai orang-orang yang disebut dewan terhormat. Anak SD berkelahi dengan temannya karena mereka melihat kakak mereka di SMP atau SMA adu jotos dengan sesama pelajar dari sekolah lain. Siswa yang di SMP atau SMA pun terobsesi oleh yang sudah disebut maha dari siswa juga mengedepankan otot dari pada otak mereka dengan tawuran dengan mahasiswa lain antar fakultas, antar kampus, atau antar organisasi. Mereka juga mencontoh apa yang dilakukan orang-orang di atas mereka, Polisi, TNI, DPR, saling bunuh dan pukul sehingga orang-orang di kampung pun merasa sah jika mereka bentrok untuk menyelesaikan masalah dengan antar kampung, agama, ras, atau suku lain. Dan baru bisa dideteksi jika ada sistem yang kacau setelah tindakan amoral dan asusila sudah merajalela.
Siapa yang Salah?
Ketika krisis moral, akhlak, dan etika telah terjadi kita sering mendengar orang-orang berkata ini semua terjadi karena globalisasi dan perkembangan jaman yang memudahkan semua orang dari kecil hingga dewasa untuk mengakses informasi. Teknologi yang menjadi kambing hitam. Sedangkan apakah dunia ini harus tetap seperti berabad-abad yang lalu?.
Bukan hendak menyalahkan pendidikan, tapi mari kita melihat realita yang terjadi. Mulai Playgroup hingga di Universitas merupakan tujuan utama masyarakat untuk menimba pengetahuan di samping banyak pendidikan informal lain seperti pondok pesantren dan sebagainya, namun masyarakat kebanyakan lebih menggantungkan pendidikan di tempat formal dibanding di tempat lain. Akan tetapi, sistem yang ada di pendidikan mulai Playgroup sampai Universitas itu sudahkah seperti yang kita harapkan?. Lalu, apakah kita yang setiap hari berangkat ke tempat pendidikan formal sudah memiliki tujuan yang benar?. Jangan-jangan itu hanya formaliatas, atau hanya biar keren, atau hanya juga untuk mendapat nilai, ijazah, dan pekerjaan yang menjanjikan kelak?. Dan apakah pembinaan karakter, moral, akhlak sudah tersentuh oleh semua itu?. Atau sudahkah para orang tua memberi apresiasi untuk anaknya yang rajin beribadah, suka menolong, menghargai orang, bersikap jujur, dan bertanggung jawab?.
Tentu dunia ini harus berkembang, akan tetapi perkembangan itu juga harus diiringi penguatan karakter, morak, akhlak, dari setiap individu dari segala usia.
Apa Hubungannya dengan Teater?
Teater memang bukan budaya asli dari Indonesia, tetapi banyak sekali kebudayaan asli Indonesia yang termasuk kategori Teater. Karena kata Teater saja berasal dari Bahasa Yunani kuno Theatron yang berarti tempat pertunjukan. Maka dalam perkembangannya, teater berarti segala bentuk seni pertunjukan. Di Indonesia ada ludruk, ketoprak, lenong dan banyak yang lainnya.
Seni peran yang ada di teater menuntut pelakunya untuk memahami dan mempelajari segala sesuatu tentang teater mulai dari penyutradaraan, keaktoran, tata artistik dan lainnya.
Seperti yang pernah kita bicarakan, konsep penyutradaraan yang sama seperti konsep aqidah atau ketuhanan membuat kita patuh akan segala sesuatu yang ditetapkan sutradara. Sutradara memiliki otoritas untuk memilih aktor dan memilih peran bagi aktor tersebut. Sutradara akan memberikan peran yang kita inginkan jika kita aktor yang baik untuknya. Sedangkan menjadi aktor yang baik butuh banyak waktu dan banyak aspek yang harus dipenuhi. Sutradara tidak akan memenuhi apa yang aktor ingin jika aktor dipandang buruk oleh sang sutradara. Tuhan akan memberi apa yang menjadi kemauan kita, jika tidak di dunia, maka pasti akan diberikan di akhirat. Jika di dunia kita tidak pernah mendapat kebahagiaan atau apa saja yang kita inginkan, dan di akhirat juga kita tidak mendapatkannya, maka patut kita bertanya, apa kita sudah menjadi aktor yang baik untuk sang sutradara kehidupan?. Bukan ingin menyamakan Tuhan dengan makhluk, karena Tuhan memiliki sifat “tidak menyerupai makhluk” akan tetapi hanya untuk mengiaskan konsep sutradara yang hampir sama dengan konsep ketuhanan.
Bagaimana menjadi aktor yang baik?. Seorang aktor tidak bisa terbentuik secara instant, ada tahap latihan dasar yang harus dilewati. Olah, gerak, vokal dan rasa. Aktor harus bisa bergerak dengan penuh tujuan, jangan ada gerakan yang tidak bermakna. Seorang aktor juga harus bisa berucap secara berbeda tergantung siapa yang diperankannya. Dan yang terpenting aktor harus mampu merasa apa yang sebenarnya tidak dirasakannya, dan bisa jadi itu adalah perasaan orang lain. Maka jika semua itu kita ambil menjadi pelajaran, kita sebagai aktor di panggung dunia akan bisa berperilaku dan melakukan hal-hal yang hanya bermanfaat saja, tidak mungkin melakukan hal yang sia-sia apalagi merugikan. Berbicara dengan menempatkan dirinya sebaik mungkin dan tidak akan menyakiti siapapun juga lawan bicaranya. dan dapat menghargi perasaan orang lain, juga patuh kepada sang sutradara pastinya.
Artistik mengajari kita tentang keindahan diri sendiri dan panggung, tentu sudah dapat difahami bagaimana mestinya kita selalu membuat tubuh dan keindahan alam sekitar.
Nah, jika di Playgroup, TK dan SD saat anak-anak butuh pondasi untuk dirinya, di SMP saat anak sedang dalam masa puber atau peralihan, di SMA sebagai lanjutan masa puber serta pencarian jati diri dan di Universitas ketika harus mengembangkan bakat dan karakter diberi pendidikan teater yang sedemikian rupa dan membawanya secara benar dalam kehidupan, apakah kiranya masih ada orang-orang yang tidak taqwa kepada Tuhannya?, masih adakah orang yang tidak menghargai orang lain?, masih adakah orang yang menjadikan bohong, mencuri, menyakiti dan lain-lainnya sebagai hobi dan hal yang biasa?. “Visi dan misi sekolah atau universitas mengedepankan SAINS untuk dipelajari, harus diubah. Pendidkan karakter dengan media teater harus dinomorsatukan, kalau karakter sudah baik apa susahnya mempelajari SAINS?” menurut Andika Pekerja Teater Nasional dari ISI Jogja.
Kenapa Harus Teater?
Seorang anak teater SMA pernah diberi Guru teaternya yang bertindak sebagai sutradara sebuah peran yang mengharuskan anak itu berpidato di depan umum dalam sebuah adegan pementasan. Sedangkan sebelumnya di kehidupannya sehari-hari ia memiliki ketakutan dan ketidak bisaaan ketika harus berbicara di depan umum. Namun setelah pementasan berakhir, ia tetap bisa berbicara didepan umum seperti pada adegan pementasan yang telah berakhir dengan baik itu. Ada juga anak yang diberi peran jahat, pembohong, pembunuh, dan pencuri, namun setelah pentas berakhir ia tidak menjadi seperti yang baru saja dia perankan.
Ada juga naskah yang memberi pendidikan dan pelajaran secara langsung tanpa perlu disampaikan seorang guru lewat lisan kepada murid, disamping manfaat yang dapat diperoleh ketika proses.
Seorang guru teater melakukan pendekatan individual, satu-persatu kepada anak didiknya. Tidak jarang guru teater datang ke rumah murid untuk berbincang dengan wali murid agar tahu keseharian, prilaku, dan karakter muridnya yang mestinya hal itu dilakukan hanya untuk mencari peran yang cocok untuk muridnya. Dengan demikian anak tidak akan canggung untuk menceritakan tentang dirinya dan guru akan lebih mudah memberi masukan-masukan yang membangun karakternya. Dari sinilah pembangunan moral, karakter, dan akhlak dapat berjalan lebih baik dibandingkan para guru pelajaran atau ekstra yang lain yang hanya memenuhi standart pengajaran secara global tanpa memperhatikan bagaimana satu-persatu muridnya. Mata pelajaran Aqidah Akhlak pada pendidikan Islam dan Pendididkan Kewarganegaraan yang digadang-gadang sebagai pendidikan untuk membangun akhlak, moral, tenggang rasa, tanggung jawab dan sebagainya pun tidak mampu seefektif teater. Tentu semua itu kembali karena cara pengajaran yang hanya dilakukan di dalam kelas saja. Guru tidak akan pernah tahu apa yang dilakukan murid-muridnya ketika keluar kelas atau sekolah. Begitu juga Guru BP, yang tidak pernah bersinggungan langsung dengan individu setiap murid kecuali murid itu melanggar sesuatu. Di sinilah peran teater begitu terlihat dalam pembangunan individu seseorang karena hanya dengan teater Guru akan tahu langsung praktek, keseharian, karakter, pola pikir, hingga hal-hal yang paling pribadi dari anak didiknya.
Apa yang Harus Kita Lakukan?
Menyuntikkan konsep teater dalam pendidikan, atau secara langsung memberi ekstrakurikuler teater disetiap jenjang pendidikan. Sebuah acungang jempol untuk sekolah kejuruan atau universitas yang menjadikan teater sebagai jurusan untuk dipelajari dan itu sudah banyak sekali kita temukan di kota-kota besar sekaligus bukti bahwa teater sejajar dengan mata pelajaran lain atau mata kuliah lain yang sangat layak untuk dipelajari.
Memberi wadah untuk komunitas teater dalam berkreatifitas atau berinvitasi agar mereka bisa mendapatkan bonus penghargaan bagi dirinya yang telah memperbaiki karakter dengan belajar bermain teater.
Dengan begitu teater dapat mencerdaskan bangsa, mencerdaskan kehidupan, memperbaiki karakter, meningkatkan kualitas kehidupan dan mewaraskan kegilaan dengan hal yang dianggap gila.”Biar kita dianggap gila, yang penting kita orang paling waras” begitulah Bang Tony Broer Dosen Teater ISI Jogja berbicara dalam suatu kesempatan.
oleh : Ahmad Shodiq *)
*)Pembina Teater RAMU SMA Raudlatul Muta’allimin Babat
Baca Juga : Mahir Berbahasa Inggris Melalui Teater
Kamis, 08 Mei 2014
Read more...
Cerpen : Wanita Sejati
Di bilik rumah sebelah kanan, terdengar suara suamiku mengerang-erang kesakitan. Riuh rendah suaranya terbawa oleh hembusan udara yang memenuhi ruang depan. Rintihan-rintihan itu seakan seperti sembilu yang menyayat-nyayat kalbu. Rasa sakit yang berkepanjangan belum juga sampai ke muara kesembuhan. Pedih rasanya mendengar erangan suami yang menahan rasa sakit di luar kemampuannya. Suara itu semakin lama semakin keras hingga aku harus berdiri dan beranjak menghampiri suamiku yang masih tergolek di ranjang kamar.Sarung yang membungkus kepalanya perlahan kusingkap, lantas kuusap keringat yang mengucur deras di keningnya. Terasa di telapak tanganku suhu badan suamiku sangat panas. Lalu aku bergegas mencarikan kain kemudian kucelupkan di sebuah ember yang berisi air di samping suamiku. Kening yang mulai berkerut kukompres dengan kain yang sudah kubasahi air. Dengan rasa kasih sayang kuusap perlahan lelehan air mata yang mengalir dari matanya yang agak memerah karena kondisi kesehatannya yang semakin memburuk.
Rasa iba pada suamiku menggelayut dalam pikiranku. Setiap aku bekerja di pasar berjualan kue basah selalu teringat penderitaan yang ia alami sejak penyakitnya kambuh. Sejak ia dipositifkan terkena liver, hampir setiap hari ia berbaring di ranjang. Badannya yang dulu tegap dan gagah mulai ringkih digerogoti penyakit yang tergolong ganas. Dan akhir-akhir ini perutnya semakin membesar. Jangankan untuk berjalan, bangun untuk duduk atau merebahkan tubuhnya kembali harus dibantu.
Kondisi suamiku yang dibekap penyakit seperti itu membangkitkan semangatku bekerja mencari nafkah. Setiap hari aku harus bangun tengah malam untuk membuat kue basah. Saat orang-orang sedang terpulas dalam dengkur, aku sudah bangun melembutkan beras yang kurendam sejak siang hari. Suara antan bertalu-talu menggilas butiran-butiran beras menjadi tepung dalam lesung. Tanganku yang dulu lembut karena tidak pernah bekerja berat kini tampak kekar seperti kaum pria. Antan setiap tengah malam kuangkat lalu kutumbukkan entah berapa ratus kali hingga beras-beras itu menjadi tepung.
Rasa kantuk tak kuhiraukan. Peluh dingin mengguyur tubuhku yang terbalut kebaya warna kusam kuusir dengan sekedar membuka kancing kebaya bagian atas. Sedikit terasa hembusan angin tengah malam mengusir resa gerah. Kemudian tungku yang menyala merah dengan jilatan-jilatan api membakar panci, kudiamkan saja hingga masakanku benar-benar matang. Satu persatu kue basah yang baru kuangkat dari panci kutiriskan di tampah agar cepat dingin. Hingga pada akhirnya aku sampai pada pagi yang menjanjikan.
“Pak, aku pamit dulu!” Suamiku tergeragap di tempat duduknya. Lantas ia memberikan isyarat izin kepadaku untuk pergi berjualan kue basah di pasar.
Anak-anakku sudah mulai terbiasa kutinggalkan dalam keadaan tidur. Jika mereka bangun, mereka sudah tidak merengek-rengek memanggilku. Mereka akan pergi ke kamar mandi tanpa harus disuruh atau dibentak-bentak seperti anak-anak pada umumnya. Setelah mandi mereka akan memakai seragam sekolah yang sudah kutaruh di dekat tempat belajarnya lalu sarapan pagi. Dua anak yang masih membutuhkan perhatian orang tua terpaksa harus belajar mandiri karena kesibukanku mencarikan nafkah buat mereka.
”Kue, kueeee....! kue, kueee.....!” suaraku beradu dengan suara pedagang-pedang lain yang menawarkan barang dagangan. Di tengah keramian pasar aku relas berdesak-desakkan sambil membawa tampah yang sarat dengan kue basah daganganku. Tangan kekarku selalu mendesak, mendorong orang-orang yang menghimpitku agar daganganku selamat. Sedangkan kedua kakiku selalu berderap seperti kaki-kaki kuda menerjang segala rintangan yang menghadang. Tanah berlumpur di tengah pasar kuterjang walau lumpur-lumpur itu membalut kaki hingga akan mencapai lutut.
Di tempat yang agak kering aku duduk lalu menjajar kue daganganku di tepi jalan yang selalu dilewati orang. Sambil duduk beralas daun jati yang kutaruh dalam keranjangku, aku sedikit bias bersitirahat melemaskan otot-otot kakiku yang kaku. Kulihat lalu-lalang pedagang dan pengunjung pasar tradisoanal saling berhimpitan. Ia beradu otot untuk saling menyingkirkan agar mereka bisa berjalan ke tujuan. Satu dua orang datang menghampiriku menanyakan harga daganganku. Dengan senang hati mereka kulayani.
”Ini, Bu jajannya,” kataku sambil menyodorkan bungkusan tas kresek berisi jajan kepada seorang ibu yang menggendong anaknya di punggung.
Saat matahari sudah nangkring di langit yang cerah, aku bergegas mengemasi barang daganganku yang tersisa. Sambil berjalan pulang, aku menawarkan daganganku pada orang-orang kampung. Dan syukur Alhamdulillah, saat sampai di rumah daganganku habis.
”Lho, kalian kok sudah pulang?” tanyaku pada anak-anakku.
”Ya, Bu. Aku dan adik disuruh minta uang oleh pak guru katanya kami belum membayar iuran sekolah,” kata anak pertamaku dengan lugas.
”Kok, masih membayar sekolah to? Kalian itu sudah dibayari pemerintah. Jadi sekolahnya gratis,” jelasku pada mereka.
”Ini buktinya!” jawab anak pertamaku sambil menyodorkan surat dari sekolah.
”Oooo, biaya Infaq to...! Kalau begitu, ayo, masuk rumah dulu!” ajakku pada mereka.
Jari-jemariku membuka kepingan uang yang kuletakkan di balik daun pisang yang mengalasi tampah. Kuhitung kepingan-kepingan itu lalu kuberikan pada anak-anakku.
”Terima kasih, Mak!” kata mereka sambil berlari kegirangan kembali ke sekolahnya.
”Buuuuu! Kemari, Buuu!” suara suamiku dari dalam kamar.
Aku melihat suamiku semakin melemah. Ia sepertinya tak kuasa menahan rasa sakit dari perutnya yang bertambah besar. Sebagai seorang istri yang lemah aku hanya dapat menatap penderitaan suamiku yang mengenaskan. Perutnya yang semakin membesar dan mengeras selalu ia pegang sambil merintih kesakitan.
”Ambilkan air, Buuu! Panasss!” keluhnya.
”Sabar, Pak, kuambilkan!”
Saat kukembali dari mengambilkan air, tiba-tiba suamiku tergolek lemas. Tangannya yang memegang perutnya kuraih dengan perlahan. Ia tak bereaksi. Waktu kuusap perutnya yang membesar dengan air, juga tak bereaksi. Aku jadi panik. Aku bingung menghadapi kondisi suamiku yang tak berdaya. Saat kutepuk-tepuk pundaknya ia juga diam tak merasakan tepukan tangan kekarku. Aku lantas memanggil Pak Kuslan, tetanggaku. Ia segera datang tergopoh-gopoh untuk memeriksa suamiku.
”Suamimu sudah tiada, Tin!”
”Masya Allah, Bapak........!” teriakku keras hingga para tetangga yang lain datang ke rumahku.
Sesak dadaku karena larut dalam tangis kehilangan suami yang telah sakit hampir enam bulan kutahan. Air mataku yang sempat membanjiri pipiku segera kuusap dengan gendong yang baru saja kuletakkan di ranjang kamar. Aku berusaha tabah menghadapi cobaan yang selama ini membebani hidupku. Aku harus bisa menerima apa yang telah ditentukan oleh Allah dengan mengambil suamiku yang sangat kucinta. Aku tak mau saat anak-anakku pulang sekolah melihat diriku masih berlinangan air mata. Aku tak ingin mereka bersedih dan meratapi kepergian bapaknya yang mengasihi mereka. Aku harus bisa menjadi ibu yang mengasihi dan melindungi mereka. Aku akan membesarkan mereka hingga mencapai apa yang dicita-citakan. Aku akan berusaha mencarikan jalan kehidupan yang terbaik bagi mereka.
”Ibu....Bapak kenapa?” Aku kaget oleh kedatangan anak-anakku. Aku tergagap menjawab pertanyaan anak sulungku. Aku hanya mampu merangkul keduanya sambil membisikkan kata-kata kematian yang bisa diterima oleh mereka. Kepeluk dan kubelai rambut yang beraroma orang aring.
”Ikhlaskan kepergian ayah kalian, biar nanti bisa tenang di sisiNya!” bisikku pada anak-anakku.
Menjelang pemakaman, kedua anakku diberi kesempatan oleh Pak Modin untuk melihat jasad ayahnya yang terbungkus kain kafan. Mereka lantas berdoa dan memberikan ucapan selamat jalan pada ayahanda tercinta.
Seminggu kemudian, suasana duka dalam keluargaku perlahan mencair oleh kesibukanku sebagai ibu rumah tangga. Aku harus kembali berdagang ke pasar demi masa depan anak-anakku yang masih mentah. Mereka membutuhkan bekal yang banyak untuk mengarungi kehidupan yang semakin ganas. Mereka harus bisa bersekolah walau dengan biaya pas-pasan hasil dari kerjaku berjualan kue basah.
Pada pagi hari saat aku berangkat ke pasar dengan membawa tampah penuh dengan kue basah, ada seseorang yang menghentikan perjalananku. Aku pun berhenti. Eh, ternyata kepala sekolah anak-anakku. Dia memberi kabar kepadaku bahwa anak-anakku mendapatkan beasiswa dari sekolah. Aku menyambut kabar tersebut dengan bersyukur kepada Allah. Aku mengucapkan rasa terima kasih kepada kepala sekolah. Hingga pada akhirnya matahari sudah tak sabar lagi memberikan penerangan bagi jalanku untuk mendidik anak-anakku yang masih belia.
Cerpen karya Ahmad Zaini*
Rasa iba pada suamiku menggelayut dalam pikiranku. Setiap aku bekerja di pasar berjualan kue basah selalu teringat penderitaan yang ia alami sejak penyakitnya kambuh. Sejak ia dipositifkan terkena liver, hampir setiap hari ia berbaring di ranjang. Badannya yang dulu tegap dan gagah mulai ringkih digerogoti penyakit yang tergolong ganas. Dan akhir-akhir ini perutnya semakin membesar. Jangankan untuk berjalan, bangun untuk duduk atau merebahkan tubuhnya kembali harus dibantu.
Kondisi suamiku yang dibekap penyakit seperti itu membangkitkan semangatku bekerja mencari nafkah. Setiap hari aku harus bangun tengah malam untuk membuat kue basah. Saat orang-orang sedang terpulas dalam dengkur, aku sudah bangun melembutkan beras yang kurendam sejak siang hari. Suara antan bertalu-talu menggilas butiran-butiran beras menjadi tepung dalam lesung. Tanganku yang dulu lembut karena tidak pernah bekerja berat kini tampak kekar seperti kaum pria. Antan setiap tengah malam kuangkat lalu kutumbukkan entah berapa ratus kali hingga beras-beras itu menjadi tepung.
Rasa kantuk tak kuhiraukan. Peluh dingin mengguyur tubuhku yang terbalut kebaya warna kusam kuusir dengan sekedar membuka kancing kebaya bagian atas. Sedikit terasa hembusan angin tengah malam mengusir resa gerah. Kemudian tungku yang menyala merah dengan jilatan-jilatan api membakar panci, kudiamkan saja hingga masakanku benar-benar matang. Satu persatu kue basah yang baru kuangkat dari panci kutiriskan di tampah agar cepat dingin. Hingga pada akhirnya aku sampai pada pagi yang menjanjikan.
“Pak, aku pamit dulu!” Suamiku tergeragap di tempat duduknya. Lantas ia memberikan isyarat izin kepadaku untuk pergi berjualan kue basah di pasar.
Anak-anakku sudah mulai terbiasa kutinggalkan dalam keadaan tidur. Jika mereka bangun, mereka sudah tidak merengek-rengek memanggilku. Mereka akan pergi ke kamar mandi tanpa harus disuruh atau dibentak-bentak seperti anak-anak pada umumnya. Setelah mandi mereka akan memakai seragam sekolah yang sudah kutaruh di dekat tempat belajarnya lalu sarapan pagi. Dua anak yang masih membutuhkan perhatian orang tua terpaksa harus belajar mandiri karena kesibukanku mencarikan nafkah buat mereka.
***
”Kue, kueeee....! kue, kueee.....!” suaraku beradu dengan suara pedagang-pedang lain yang menawarkan barang dagangan. Di tengah keramian pasar aku relas berdesak-desakkan sambil membawa tampah yang sarat dengan kue basah daganganku. Tangan kekarku selalu mendesak, mendorong orang-orang yang menghimpitku agar daganganku selamat. Sedangkan kedua kakiku selalu berderap seperti kaki-kaki kuda menerjang segala rintangan yang menghadang. Tanah berlumpur di tengah pasar kuterjang walau lumpur-lumpur itu membalut kaki hingga akan mencapai lutut.
Di tempat yang agak kering aku duduk lalu menjajar kue daganganku di tepi jalan yang selalu dilewati orang. Sambil duduk beralas daun jati yang kutaruh dalam keranjangku, aku sedikit bias bersitirahat melemaskan otot-otot kakiku yang kaku. Kulihat lalu-lalang pedagang dan pengunjung pasar tradisoanal saling berhimpitan. Ia beradu otot untuk saling menyingkirkan agar mereka bisa berjalan ke tujuan. Satu dua orang datang menghampiriku menanyakan harga daganganku. Dengan senang hati mereka kulayani.
”Ini, Bu jajannya,” kataku sambil menyodorkan bungkusan tas kresek berisi jajan kepada seorang ibu yang menggendong anaknya di punggung.
Saat matahari sudah nangkring di langit yang cerah, aku bergegas mengemasi barang daganganku yang tersisa. Sambil berjalan pulang, aku menawarkan daganganku pada orang-orang kampung. Dan syukur Alhamdulillah, saat sampai di rumah daganganku habis.
”Lho, kalian kok sudah pulang?” tanyaku pada anak-anakku.
”Ya, Bu. Aku dan adik disuruh minta uang oleh pak guru katanya kami belum membayar iuran sekolah,” kata anak pertamaku dengan lugas.
”Kok, masih membayar sekolah to? Kalian itu sudah dibayari pemerintah. Jadi sekolahnya gratis,” jelasku pada mereka.
”Ini buktinya!” jawab anak pertamaku sambil menyodorkan surat dari sekolah.
”Oooo, biaya Infaq to...! Kalau begitu, ayo, masuk rumah dulu!” ajakku pada mereka.
Jari-jemariku membuka kepingan uang yang kuletakkan di balik daun pisang yang mengalasi tampah. Kuhitung kepingan-kepingan itu lalu kuberikan pada anak-anakku.
”Terima kasih, Mak!” kata mereka sambil berlari kegirangan kembali ke sekolahnya.
”Buuuuu! Kemari, Buuu!” suara suamiku dari dalam kamar.
Aku melihat suamiku semakin melemah. Ia sepertinya tak kuasa menahan rasa sakit dari perutnya yang bertambah besar. Sebagai seorang istri yang lemah aku hanya dapat menatap penderitaan suamiku yang mengenaskan. Perutnya yang semakin membesar dan mengeras selalu ia pegang sambil merintih kesakitan.
”Ambilkan air, Buuu! Panasss!” keluhnya.
”Sabar, Pak, kuambilkan!”
Saat kukembali dari mengambilkan air, tiba-tiba suamiku tergolek lemas. Tangannya yang memegang perutnya kuraih dengan perlahan. Ia tak bereaksi. Waktu kuusap perutnya yang membesar dengan air, juga tak bereaksi. Aku jadi panik. Aku bingung menghadapi kondisi suamiku yang tak berdaya. Saat kutepuk-tepuk pundaknya ia juga diam tak merasakan tepukan tangan kekarku. Aku lantas memanggil Pak Kuslan, tetanggaku. Ia segera datang tergopoh-gopoh untuk memeriksa suamiku.
”Suamimu sudah tiada, Tin!”
”Masya Allah, Bapak........!” teriakku keras hingga para tetangga yang lain datang ke rumahku.
Sesak dadaku karena larut dalam tangis kehilangan suami yang telah sakit hampir enam bulan kutahan. Air mataku yang sempat membanjiri pipiku segera kuusap dengan gendong yang baru saja kuletakkan di ranjang kamar. Aku berusaha tabah menghadapi cobaan yang selama ini membebani hidupku. Aku harus bisa menerima apa yang telah ditentukan oleh Allah dengan mengambil suamiku yang sangat kucinta. Aku tak mau saat anak-anakku pulang sekolah melihat diriku masih berlinangan air mata. Aku tak ingin mereka bersedih dan meratapi kepergian bapaknya yang mengasihi mereka. Aku harus bisa menjadi ibu yang mengasihi dan melindungi mereka. Aku akan membesarkan mereka hingga mencapai apa yang dicita-citakan. Aku akan berusaha mencarikan jalan kehidupan yang terbaik bagi mereka.
”Ibu....Bapak kenapa?” Aku kaget oleh kedatangan anak-anakku. Aku tergagap menjawab pertanyaan anak sulungku. Aku hanya mampu merangkul keduanya sambil membisikkan kata-kata kematian yang bisa diterima oleh mereka. Kepeluk dan kubelai rambut yang beraroma orang aring.
”Ikhlaskan kepergian ayah kalian, biar nanti bisa tenang di sisiNya!” bisikku pada anak-anakku.
Menjelang pemakaman, kedua anakku diberi kesempatan oleh Pak Modin untuk melihat jasad ayahnya yang terbungkus kain kafan. Mereka lantas berdoa dan memberikan ucapan selamat jalan pada ayahanda tercinta.
Seminggu kemudian, suasana duka dalam keluargaku perlahan mencair oleh kesibukanku sebagai ibu rumah tangga. Aku harus kembali berdagang ke pasar demi masa depan anak-anakku yang masih mentah. Mereka membutuhkan bekal yang banyak untuk mengarungi kehidupan yang semakin ganas. Mereka harus bisa bersekolah walau dengan biaya pas-pasan hasil dari kerjaku berjualan kue basah.
Pada pagi hari saat aku berangkat ke pasar dengan membawa tampah penuh dengan kue basah, ada seseorang yang menghentikan perjalananku. Aku pun berhenti. Eh, ternyata kepala sekolah anak-anakku. Dia memberi kabar kepadaku bahwa anak-anakku mendapatkan beasiswa dari sekolah. Aku menyambut kabar tersebut dengan bersyukur kepada Allah. Aku mengucapkan rasa terima kasih kepada kepala sekolah. Hingga pada akhirnya matahari sudah tak sabar lagi memberikan penerangan bagi jalanku untuk mendidik anak-anakku yang masih belia.
Cerpen karya Ahmad Zaini*
* Pembina SMA Raudlatul Muta’allimin Babat
Berdomisili diWanar Pucuk Lamongan
Baca Juga : Cerpen - Sepurone Nab
Cerpen - Ketabahan Hati Zakiyya
Rabu, 07 Mei 2014
Read more...
Opini : Menjadi Pemimpin Yang Ideal
Kabarlamongan.com : Seorang pemimpin adalah tonggak utama dalam sebuah instansi, kelompok dan komunitas ,Pemimpin adalah orang yang memberikan visi dan tujuan. Dalam suatu kelompok katakanlah, bila tidak mempunyai tujuan sama saja dengan membubarkan organsasi tersebut. Dan hanya pemimpinlah yang mampu mengatur dan mengarahkan semua itu. Dan sejarah teori kepemimpinan menjelaskan bahwa kepemimpinan yang dicontohkan islam adalah model terbaik.
Pemimpin yang ideal adalah pemimpin yang cara memimpinnya beracuan pada Al-Qur’an dan Hadist sebagai sumber hukum utama ajaran Islam. Tidak semata mata membuat aturan sendiri yang menyimpang dari ajaran Islam. Banyak orang yang kurang tahu tentang kriteria pemimpin menurut pandangan Islam dan cara memimpin dalam Islam. Keadaan ini sangat mengkhawatirkan melihat banyaknya perilaku seorang pemimpin yang tidak sesuai dengan yang diajarkan dalam Islam, salah satu penyebab dari kekacauan yang akhir-akhir ini terjadi adalah peran pemimpin yang kurang mampu membawa keadaan yang lebih baik.
Seorang pemimpin harus adil bisa mengayomi semua golongan bukan hanya berpaku pada satu golongan tertentu dan terkesan untuk menghancurkan golongan yang dianggap berbeda pikiran dan keyakinan bahkan berbeda pendapat pun harus dibinasakan.
“Sesungguhnya, Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan apabila kamu menetapkan hukum antara manusia, supaya kamu menetapkan hukum dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepada kamu. Sesungguhnya Allah sentiasa mendengar, lagi sentiasa melihat.” (Surah an-Nisa’ : ayat 58)
Pemimpin yang adil menurut perspektif al-Quran adalah mereka yang mampu membawa wadah perjuangan ini ke arah keredaan Allah serta dapat menjaga amanat yang diberikan karena sesungguhnya seorang pemimpin itu akan dimintai pertanggung jawaban di akherat kelak
“Apabila sesuatu amanah itu disalahgunakan (disia-siakan), maka tunggulah saat kehancuran. Para sahabat bertanya: Bagaimana amanah itu disalah gunakan wahai Rasulullah? Baginda menjawab: Yaitu apabila tugas atau tanggungjawab sebagai pemimpin itu diberikan (diserahkan) kepada bukan ahlinya atau bukan orang yang layak, maka tunggulah saat kehancuran.”
Ciri-Ciri Pemimpin yang tidak amanah, adalah sbb:
pemimpin yang tidak amanah adalah mementingkan diri sendiri, keluarga dan kelompoknya. Jika pemimpin yang amanah melaksanakan segala kepemimpinannya untuk semua rakyat dan bangsanya, maka pemimpin yang tidak amanah melakukannya hanya untuk diri sendiri, keluarga dan kelompoknya. Ia tidak menegakkan keadilan bagi seluruh anggota kelompoknya. Ia juga tidak mengembangkan potensi untuk kemajuan kelompoknya, tetapi untuk kepentingan diri sendiri, keluarga dan kelompoknya saja, bahkan bila perlu dengan mengorbankan kelompok yang dianggap bersebrangan. Na’udzu billah min dzalika.
Ciri selanjutnya adalah berlaku zhalim. Pemimpin yang tidak amanah bersifat zhalim. Dia melaksanakan kepemimpinan itu bukan untuk melaksanakan amanah, melainkan untuk berkuasa dan arogan sehingga dapat berbuat zhalim kepada rakyatnya. Yang dipikirkan adalah kekuasaannya dan fasilitas dari kekuasaan itu, tidak anggota kelompoknya menderita dan sengsara bahkan tidak peduli tumpahnya darah dan pengorbanan yang sia sia karena kezhalimannya.
Ciri yang lain adalah pemimpin yang membuat rusak dan hancur seluruh tatanan sosial masyarakat. Pemimpin yang tidak amanah akan mengakibatkan kerusakan dan kehancuran. Salah satu bentuknya adalah menjadi dominannya seluruh bentuk kemaksiatan, seperti Korupsi, Kulusi dan Nepotisme
Dengan demikian kita harus memunculkan pemimpin yang adil, yaitu pemimpin yang senantiasa menegakkan keadilan dan berbuat untuk kemaslahatan rakyatnya di dunia dan di akhirat. Kita harus berjihad untuk sebuah proses lahirnya pemimpin yang adil. Kita harus menyiapkan ibu-ibu yang akan mencetak pemimpin yang adil. Kita juga harus menyiapkan sarana untuk terciptanya pemimpin yang adil, Dan akhirnya kita harus berdakwah, beramar ma’ruf nahi munkar agar mendapatkan pemimpin yang adil..
Pemimpin yang Baik Menurut Islam
“Dan kamu semua adalah pemimpin dan kamu semua akan diminta pertanggungjawabannya atas kepemimpinan itu”. Umar bin Khathab r.a. berkata: Jika ada seekor keledai yang jatuh di Irak, maka aku akan ditanya di hadapan Allah Taala, kenapa engkau tidak memperbaiki jalan itu”
Doa kita adalah doa yang diabadikan dalam Al-Qur’an:
“Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami istri-istri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertaqwa”.
Semoga kita semua selalu diberikan petunjuk oleh Allah, untuk menjadi manusia yang selalu mendapat ridho-Nya.
Oleh : AHMAD RIZANU ALAMI, S.Pd.I. Guru SDN NGAMBEG KEC. PUCUK
Baca informasi seputar Kabupaten Lamongan hanya di Kabarlamongan.com
Kabar Lamongan.com Berita Lamongan Jawa Timur Terkini
Pemimpin yang ideal adalah pemimpin yang cara memimpinnya beracuan pada Al-Qur’an dan Hadist sebagai sumber hukum utama ajaran Islam. Tidak semata mata membuat aturan sendiri yang menyimpang dari ajaran Islam. Banyak orang yang kurang tahu tentang kriteria pemimpin menurut pandangan Islam dan cara memimpin dalam Islam. Keadaan ini sangat mengkhawatirkan melihat banyaknya perilaku seorang pemimpin yang tidak sesuai dengan yang diajarkan dalam Islam, salah satu penyebab dari kekacauan yang akhir-akhir ini terjadi adalah peran pemimpin yang kurang mampu membawa keadaan yang lebih baik.
Seorang pemimpin harus adil bisa mengayomi semua golongan bukan hanya berpaku pada satu golongan tertentu dan terkesan untuk menghancurkan golongan yang dianggap berbeda pikiran dan keyakinan bahkan berbeda pendapat pun harus dibinasakan.
“Sesungguhnya, Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan apabila kamu menetapkan hukum antara manusia, supaya kamu menetapkan hukum dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepada kamu. Sesungguhnya Allah sentiasa mendengar, lagi sentiasa melihat.” (Surah an-Nisa’ : ayat 58)
Pemimpin yang adil menurut perspektif al-Quran adalah mereka yang mampu membawa wadah perjuangan ini ke arah keredaan Allah serta dapat menjaga amanat yang diberikan karena sesungguhnya seorang pemimpin itu akan dimintai pertanggung jawaban di akherat kelak
“Apabila sesuatu amanah itu disalahgunakan (disia-siakan), maka tunggulah saat kehancuran. Para sahabat bertanya: Bagaimana amanah itu disalah gunakan wahai Rasulullah? Baginda menjawab: Yaitu apabila tugas atau tanggungjawab sebagai pemimpin itu diberikan (diserahkan) kepada bukan ahlinya atau bukan orang yang layak, maka tunggulah saat kehancuran.”
Ciri-Ciri Pemimpin yang tidak amanah, adalah sbb:
pemimpin yang tidak amanah adalah mementingkan diri sendiri, keluarga dan kelompoknya. Jika pemimpin yang amanah melaksanakan segala kepemimpinannya untuk semua rakyat dan bangsanya, maka pemimpin yang tidak amanah melakukannya hanya untuk diri sendiri, keluarga dan kelompoknya. Ia tidak menegakkan keadilan bagi seluruh anggota kelompoknya. Ia juga tidak mengembangkan potensi untuk kemajuan kelompoknya, tetapi untuk kepentingan diri sendiri, keluarga dan kelompoknya saja, bahkan bila perlu dengan mengorbankan kelompok yang dianggap bersebrangan. Na’udzu billah min dzalika.
Ciri selanjutnya adalah berlaku zhalim. Pemimpin yang tidak amanah bersifat zhalim. Dia melaksanakan kepemimpinan itu bukan untuk melaksanakan amanah, melainkan untuk berkuasa dan arogan sehingga dapat berbuat zhalim kepada rakyatnya. Yang dipikirkan adalah kekuasaannya dan fasilitas dari kekuasaan itu, tidak anggota kelompoknya menderita dan sengsara bahkan tidak peduli tumpahnya darah dan pengorbanan yang sia sia karena kezhalimannya.
Ciri yang lain adalah pemimpin yang membuat rusak dan hancur seluruh tatanan sosial masyarakat. Pemimpin yang tidak amanah akan mengakibatkan kerusakan dan kehancuran. Salah satu bentuknya adalah menjadi dominannya seluruh bentuk kemaksiatan, seperti Korupsi, Kulusi dan Nepotisme
Dengan demikian kita harus memunculkan pemimpin yang adil, yaitu pemimpin yang senantiasa menegakkan keadilan dan berbuat untuk kemaslahatan rakyatnya di dunia dan di akhirat. Kita harus berjihad untuk sebuah proses lahirnya pemimpin yang adil. Kita harus menyiapkan ibu-ibu yang akan mencetak pemimpin yang adil. Kita juga harus menyiapkan sarana untuk terciptanya pemimpin yang adil, Dan akhirnya kita harus berdakwah, beramar ma’ruf nahi munkar agar mendapatkan pemimpin yang adil..
Pemimpin yang Baik Menurut Islam
- Beriman & Bertaqwa dengan sebenarnya, yaitu: mampu memelihara hubungan baiknya dengan Allah (seperti dengan shalat), memelihara hubungan baiknya dengan manusia (seperti dengan zakat) & tunduk secara bersama kepada Allah, Rasul-Nya & orang-orang beriman.
- Amanah /credible / dapat dipercaya Secara umum, orang dipercaya karena 2 hal, yaitu:
- Integritas kepribadiannya, seperti: shiddiq (benar & jujur), adil, ramah, istiqamah & bertanggung jawab. Uswatun hasanah
- Kemampuannya, seperti: profesional/ahli dalam memenej tugas, atau fathanah /cerdas. Pemimpin yang fathanah harus memiliki 3 kecerdasan, yaitu:
- Kecerdasan intelektual: Berilmu, berwawasan luas, cerdas-kreatif, memiliki pandangan jauh ke depan / visioner
- Kecerdasan spiritual: Kemampuan menterjemahkan kehendak Allah dalam pikiran, sikap & prilaku. Dia melakukan sesuatu bukan karena yang lain melainkan hanya karena Allah semata (Ikhlas)
- Kecerdasan emosional: Sabar, yakni mampu mengendalikan emosi jiwanya, tahu kapan harus bertindak tegas & kapan toleran.
- Syajâ‘ah, yaitu: berani menyatakan kebenaran & memutuskan perkara secara adil & bijak, serta berani menyeru pada kebaikan & mencegah kemungkaran. Hanya orang yang benar-benar bersih & yakin akan kebenaran yang diperjuangkannya serta takut pada Allah yang berani menyampaikan kebenaran risalah Ilahi.
- Mencintai & dicintai Rakyatnya, Bukti kecintaan pemimpin terhadap rakyatnya yaitu dia kenal & dekat dengan rakyatnya, peka dan peduli terhadap nasib rakyatnya, tidak mau menyusahkan mereka dan selalu mendoakannya. Kemampuan merasakan penderitaan manusia dan sangat peduli dengan keselamatan mereka, dan dimiliki oleh Nabi saw yang tulus mencintai mereka.
- Uswatun Hasanah, yaitu: bisa menjadi teladan yang baik dan teduh sehingga mampu mendidik orang yang dipimpinnya dengan keteladanan dan nasihat yang baik pula.
“Dan kamu semua adalah pemimpin dan kamu semua akan diminta pertanggungjawabannya atas kepemimpinan itu”. Umar bin Khathab r.a. berkata: Jika ada seekor keledai yang jatuh di Irak, maka aku akan ditanya di hadapan Allah Taala, kenapa engkau tidak memperbaiki jalan itu”
Doa kita adalah doa yang diabadikan dalam Al-Qur’an:
“Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami istri-istri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertaqwa”.
Semoga kita semua selalu diberikan petunjuk oleh Allah, untuk menjadi manusia yang selalu mendapat ridho-Nya.
Oleh : AHMAD RIZANU ALAMI, S.Pd.I. Guru SDN NGAMBEG KEC. PUCUK
Baca informasi seputar Kabupaten Lamongan hanya di Kabarlamongan.com
Kabar Lamongan.com Berita Lamongan Jawa Timur Terkini
Jumat, 04 April 2014
Read more...
PERANAN MADRASAH DINIYAH DI TENGAH KRISIS MORAL
Kabarlamongan.com : Lamongan - Dalam pasal 1 ayat 1 Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 55 Tahun 2007 tentang Pendidikan Agama dan Pendidikan Keagamaan disebutkan bahwa "Pendidikan keagamaan adalah pendidikan yang mempersiapkan peserta didik untuk dapat menjalankan peranan yang menuntut penguasaan pengetahuan tentang ajaran agama dan/atau menjadi ahli ilmu agama dan mengamalkan ajaran agamanya.
"Selanjutnya dalam ayat 2 disebutkan bahwa "Pendidikan diniyah adalah pendidikan keagamaan Islam yang diselenggarakan pada semua jalur dan jenjang pendidikan." Pada pasal-pasal selanjutnya telah diatur ketentuan tentang jenjang, kurikulum, dan bentuk pendidikan diniyah. Peraturan ini adalah dalam rangka melaksanakan ketentuan Pasal 12 ayat 4, pasal 30 ayat 5, dan pasal 37 ayat 3 Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.
Menilik dari uraian di atas kiranya kita patut bersyukur karena adanya peningkatan perhatian dari pemerintah terhadap pendidikan diniyah. Tentu saja kita juga patut berterima kasih kepada para anggota legislatif yang telah memperjuangkan aspirasi sehingga tersusun UU dan PP tersebut. Sebagai wujud syukur dan terima kasih para pengelola pendidikan diniyah hendaknya berbenah diri menata lembaganya masing-masing agar semakin berkualitas dan dapat menghasilkan alumni yang berdaya guna baik bagi dirinya sendiri maupun masyarakat.
Pendidikan diniyah yang salah satu bentuknya berupa pondok pesantren harus diakui merupakan pendidikan murni bangsa Indonesia. Sistem dan pengelolaan pembelajaran yang dipakai adalah khazanah pendidikan yang masih relevan sampai sekarang. Dalam hal ini sesungguhnya secara teoritis dan praktis pendidikan pondok pesantren tidak kalah dengan teori-teori dari Barat. Kemandirian dan demokratisasi pendidikan di pondok pesantren adalah cikal bakal sistem pendidikan yang perlu digali lebih dalam agar intinya dapat dikontekstualkan dengan keadaan sekarang.
Pondok pesantren yang dipimpin para ulama atau kyai (Jawa) dalam perkembangannya melahirkan alumni/santri yang melanjutkan perjuangannya. Para alumni umumnya mendirikan pondok pesantren yang di dalamnya terdapat lembaga madrasah diniyah baik formal maupun nonformal. Keberadaan madrasah diniyah yang tersebar luas di desa harus dilihat sebagai bentuk perjuangan dakwah Islam abadi.
Jumlah madrasah diniyah yang semakin banyak juga merupakan bentuk kepercayaan masyarakat tentang peranan penting yang dijalankannya khususnya untuk membentengi moral generasi muda. Sebagai contoh di kabupaten Lamongan terdapat kurang lebih 600 lembaga pendidikan diniyah baik yang bernaung dalam pondok pesantren maupun yang berdiri secara mandiri. Jika satu lembaga terdapat kurang lebih 10 ustadz/ustadzah maka total jumlahnya kurang lebih 6000 guru. Jika dirata-rata jumlah santrinya sekitar 75 orang maka secara keseluruhan jumlahnya mencapai 45.000 santri. Suatu jumlah yang tidak dapat dianggap remeh apabila hasil pendidikannya berupa 'gerakan moral' sebagai antisipasi krisis moral di negeri ini, khususnya di wilayah Lamongan.
Dalam tulisan ini saya mencoba mengulas tentang pengertian krisis moral dan peranan apa yang dapat dimainkan oleh madrasah diniyah guna membendung arus krisis yang bersiap menggerus dari berbagai sudut.
Krisis Moral
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia edisi ketiga (2005), kata krisis berarti keadaan yang genting, kemelut. Sedangkan kata moral berarti ajaran tentang baik buruk yang diterima umum mengenai perbuatan, sikap, kewajiban, dan sebagainya; budi pekerti; susila. Bila keduanya digabung menjadi krisis moral maka artinya adalah kemerosotan dalam bidang moral. Krisis moral merupakan akibat dari sebuah proses demoralisasi yang cukup panjang. Gerakannya yang perlahan tetapi mematikan sudah membuat bangsa ini harus bersiap-siap menuju kehancuran yang bila dibiarkan berlarut-larut akan menenggelamkan keberadaan bangsa Indonesia.
Ketika berbagai krisis menerpa bangsa Indonesia pada tahun 1997, banyak yang mengira bahwa krisis tersebut hanya berupa krisis moneter dan ekonomi. Namun, lebih dari yang diperkirakan, ternyata krisis moral merupakan salah satu momok yang sangat menakutkan bagi keberlangsungan perjalanan bangsa Indonesia. Kini berbagai kalangan, khususnya pendidikan, mulai menyadari bahwa ada banyak unsur yang hilang dalam dunia pendidikan. Salah satunya adalah pendidikan karakter, yang diyakini bila dijalankan dengan sungguh-sungguh akan mengembalikan martabat bangsa Indonesia sebagai bangsa yang berbudi luhur dan berakhlak mulia.
Thomas Lickona dari Cortland University menyatakan ada sepuluh tanda zaman yang kini terjadi, yang juga terjadi di Indonesia, yang harus diwaspadai sebagai bentuk krisis moral, yang bisa membawa bangsa ini menuju kehancuran. Kesepuluh tanda zaman itu adalah: (1) meningkatnya kekerasan di kalangan remaja atau masyarakat, (2) penggunaan bahasa dan kata-kata yang memburuk/tidak baku, (3) pengaruh peer-group (geng) dalam tindak kekerasan semakin menguat, (4) meningkatnya perilaku merusak diri, seperti penggunaan narkoba, alkohol, dan seks bebas, (5) semakin kaburnya pedoman moral baik dan buruk, (6) menurunnya etos kerja, (7) semakin rendahnya rasa hormat kepada orang tua dan guru, (8) rendahnya rasa tanggung jawab individu dan kelompok, (9) membudayanya kebohongan atau ketidakjujuran, dan (10) adanya rasa saling curiga dan kebencian antar sesama.
Jika kita amati secara seksama, kiranya sepuluh hal yang disebutkan oleh Thomas Lickona tersebut sudah menjalar dan berkembang biak dalam kehidupan kita. Di sinilah madrasah diniyah dituntut berperan aktif dalam mengentas dan membilas krisis moral tersebut. Masalahnya adalah munculnya sikap pesimis dari banyak kalangan yang berupa pernyataan seperti ini: lho, madrasah diniyah kan sudah ada sejak zaman dulu, lalu mana hasil yang bisa dicapai? Kalau madin bisa diyakini sebagai pemeran untuk membebaskan krisis moral, mestinya sejak dulu krisis itu tidak ada? Pernyataan itu memang tidak bisa disalahkan sepenuhnya karena kenyataannya memang demikian. Lantas, apa yang seharusnya dilakukan?
Revitalisasi Peran Madin
Realitas yang terjadi selama ini patut menjadi renungan kita bersama. Pada kenyataannya, pendidikan dan pembelajaran ilmu-ilmu agama tidak jauh berbeda dengan pendidikan dan pembelajaran ilmu-ilmu umum. Kebanyakan materi ilmu-ilmu agama hanya sebatas teori tanpa tindak lanjut berupa praktik ibadah yang sungguh-sungguh. Gambaran kehidupan beragama bangsa Indonesia secara satiris ditayangkan dalam sinetron SCTV yang berjudul Islam KTP. Begitulah potret sebenarnya bagaimana kita menjalankan agama Islam.
Madrasah Diniyah yang notabene bertujuan memberikan pendidikan dan pengamalan ajaran-ajaran agama Islam, kiranya perlu merevitalisasi diri agar dapat berperan secara signifikan untuk mengatasi krisis moral bangsa ini. Ada 3 hal yang perlu mendapat perhatian dari stakeholder madrasah diniyah dan segenap warga masyarakat agar peran yang dijalankan madin bisa terlaksana dengan sukses dan optimal.
Pertama, peran sentral pengasuh madin yang biasanya dipegang oleh kyai atau ustadz harus dikembalikan pada posisi awalnya. Selama ini banyak kyai atau ustadz yang tertarik dan ditarik-tarik ke dalam area politik sehingga banyak lembaga madin yang terabaikan dan terbengkalai. Ini bukan berarti pengasuh tidak boleh berpolitik. Aktifitas berpolitik sah-sah saja, tetapi dengan tujuan meningkatkan eksistensi madin dan dalam rangka menyejahterakan warga madin.
Kedua, revitalisasi kurikulum madin yang lebih mengedepankan pembahasan dan pemecahan problema keagamaan yang actual. Selama ini kurikulum yang ada masih mengacu kepada kajian teks secara apa adanya, tidak ada penekanan terhadap persoalan-persoalan yang dihadapi siswa dan masyarakat umum dalam menghadapi era globalisasi dan informasi. Realitasnya, memang sudah ada beberapa madin yang mampu menangkap ‘tanda zaman’ dan mengantisipasinya dengan mumpuni. Namun masih banyak yang keteteran menghadapi tantangan zaman ini. Di sinilah perlunya forum yang berupa pokja (kelompok kerja) yang tidak hanya mengurusi masalah administrasi tetapi juga pengkajian kurikulum secara mendalam baik secara internal maupun eksternal.
Ketiga, penyadaran dan kesadaran-diri masyarakat tentang pentingnya peran madin menjadi menu wajib program sosialisasi yang harus dilakukan oleh tokoh-tokoh agama dan masyarakat. Langkah yang dilakukan oleh Gubernur Jatim, Soekarwo, yang menyatakan bahwa madin adalah pagar agama dan budaya yang wajib dilestarikan merupakan PR yang harus dilakukan oleh pimpinan di bawahnya. Juga bantuan pendanaan yang digagasnya harus menjadi program unggulan yang patut mendapat prioritas para bupati atau walikota. Yang lebih penting lagi adalah program-program itu berjalan secara berkesinambungan dan kontinyu, bukan program tebar pesona yang hanya berjalan sesaat.
Akhirnya, jika ketiga hal tersebut berjalan secara seimbang dan sinergis, kami berkeyakinan bahwa peran madin dalam menggerus dan mengikis krisis moral bangsa ini akan berjalan efektif dan mencapai hasil yang optimal, amin ya robbal ‘alamiiin…………
Oleh: Muslimin,SPd. *)
*) Penulis adalah staf pengajar SMP Islam Tikung dan Madin AL BIR Tikung Lamongan
"Selanjutnya dalam ayat 2 disebutkan bahwa "Pendidikan diniyah adalah pendidikan keagamaan Islam yang diselenggarakan pada semua jalur dan jenjang pendidikan." Pada pasal-pasal selanjutnya telah diatur ketentuan tentang jenjang, kurikulum, dan bentuk pendidikan diniyah. Peraturan ini adalah dalam rangka melaksanakan ketentuan Pasal 12 ayat 4, pasal 30 ayat 5, dan pasal 37 ayat 3 Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.
Menilik dari uraian di atas kiranya kita patut bersyukur karena adanya peningkatan perhatian dari pemerintah terhadap pendidikan diniyah. Tentu saja kita juga patut berterima kasih kepada para anggota legislatif yang telah memperjuangkan aspirasi sehingga tersusun UU dan PP tersebut. Sebagai wujud syukur dan terima kasih para pengelola pendidikan diniyah hendaknya berbenah diri menata lembaganya masing-masing agar semakin berkualitas dan dapat menghasilkan alumni yang berdaya guna baik bagi dirinya sendiri maupun masyarakat.
Pendidikan diniyah yang salah satu bentuknya berupa pondok pesantren harus diakui merupakan pendidikan murni bangsa Indonesia. Sistem dan pengelolaan pembelajaran yang dipakai adalah khazanah pendidikan yang masih relevan sampai sekarang. Dalam hal ini sesungguhnya secara teoritis dan praktis pendidikan pondok pesantren tidak kalah dengan teori-teori dari Barat. Kemandirian dan demokratisasi pendidikan di pondok pesantren adalah cikal bakal sistem pendidikan yang perlu digali lebih dalam agar intinya dapat dikontekstualkan dengan keadaan sekarang.
Pondok pesantren yang dipimpin para ulama atau kyai (Jawa) dalam perkembangannya melahirkan alumni/santri yang melanjutkan perjuangannya. Para alumni umumnya mendirikan pondok pesantren yang di dalamnya terdapat lembaga madrasah diniyah baik formal maupun nonformal. Keberadaan madrasah diniyah yang tersebar luas di desa harus dilihat sebagai bentuk perjuangan dakwah Islam abadi.
Jumlah madrasah diniyah yang semakin banyak juga merupakan bentuk kepercayaan masyarakat tentang peranan penting yang dijalankannya khususnya untuk membentengi moral generasi muda. Sebagai contoh di kabupaten Lamongan terdapat kurang lebih 600 lembaga pendidikan diniyah baik yang bernaung dalam pondok pesantren maupun yang berdiri secara mandiri. Jika satu lembaga terdapat kurang lebih 10 ustadz/ustadzah maka total jumlahnya kurang lebih 6000 guru. Jika dirata-rata jumlah santrinya sekitar 75 orang maka secara keseluruhan jumlahnya mencapai 45.000 santri. Suatu jumlah yang tidak dapat dianggap remeh apabila hasil pendidikannya berupa 'gerakan moral' sebagai antisipasi krisis moral di negeri ini, khususnya di wilayah Lamongan.
Dalam tulisan ini saya mencoba mengulas tentang pengertian krisis moral dan peranan apa yang dapat dimainkan oleh madrasah diniyah guna membendung arus krisis yang bersiap menggerus dari berbagai sudut.
Krisis Moral
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia edisi ketiga (2005), kata krisis berarti keadaan yang genting, kemelut. Sedangkan kata moral berarti ajaran tentang baik buruk yang diterima umum mengenai perbuatan, sikap, kewajiban, dan sebagainya; budi pekerti; susila. Bila keduanya digabung menjadi krisis moral maka artinya adalah kemerosotan dalam bidang moral. Krisis moral merupakan akibat dari sebuah proses demoralisasi yang cukup panjang. Gerakannya yang perlahan tetapi mematikan sudah membuat bangsa ini harus bersiap-siap menuju kehancuran yang bila dibiarkan berlarut-larut akan menenggelamkan keberadaan bangsa Indonesia.
Ketika berbagai krisis menerpa bangsa Indonesia pada tahun 1997, banyak yang mengira bahwa krisis tersebut hanya berupa krisis moneter dan ekonomi. Namun, lebih dari yang diperkirakan, ternyata krisis moral merupakan salah satu momok yang sangat menakutkan bagi keberlangsungan perjalanan bangsa Indonesia. Kini berbagai kalangan, khususnya pendidikan, mulai menyadari bahwa ada banyak unsur yang hilang dalam dunia pendidikan. Salah satunya adalah pendidikan karakter, yang diyakini bila dijalankan dengan sungguh-sungguh akan mengembalikan martabat bangsa Indonesia sebagai bangsa yang berbudi luhur dan berakhlak mulia.
Thomas Lickona dari Cortland University menyatakan ada sepuluh tanda zaman yang kini terjadi, yang juga terjadi di Indonesia, yang harus diwaspadai sebagai bentuk krisis moral, yang bisa membawa bangsa ini menuju kehancuran. Kesepuluh tanda zaman itu adalah: (1) meningkatnya kekerasan di kalangan remaja atau masyarakat, (2) penggunaan bahasa dan kata-kata yang memburuk/tidak baku, (3) pengaruh peer-group (geng) dalam tindak kekerasan semakin menguat, (4) meningkatnya perilaku merusak diri, seperti penggunaan narkoba, alkohol, dan seks bebas, (5) semakin kaburnya pedoman moral baik dan buruk, (6) menurunnya etos kerja, (7) semakin rendahnya rasa hormat kepada orang tua dan guru, (8) rendahnya rasa tanggung jawab individu dan kelompok, (9) membudayanya kebohongan atau ketidakjujuran, dan (10) adanya rasa saling curiga dan kebencian antar sesama.
Jika kita amati secara seksama, kiranya sepuluh hal yang disebutkan oleh Thomas Lickona tersebut sudah menjalar dan berkembang biak dalam kehidupan kita. Di sinilah madrasah diniyah dituntut berperan aktif dalam mengentas dan membilas krisis moral tersebut. Masalahnya adalah munculnya sikap pesimis dari banyak kalangan yang berupa pernyataan seperti ini: lho, madrasah diniyah kan sudah ada sejak zaman dulu, lalu mana hasil yang bisa dicapai? Kalau madin bisa diyakini sebagai pemeran untuk membebaskan krisis moral, mestinya sejak dulu krisis itu tidak ada? Pernyataan itu memang tidak bisa disalahkan sepenuhnya karena kenyataannya memang demikian. Lantas, apa yang seharusnya dilakukan?
Revitalisasi Peran Madin
Realitas yang terjadi selama ini patut menjadi renungan kita bersama. Pada kenyataannya, pendidikan dan pembelajaran ilmu-ilmu agama tidak jauh berbeda dengan pendidikan dan pembelajaran ilmu-ilmu umum. Kebanyakan materi ilmu-ilmu agama hanya sebatas teori tanpa tindak lanjut berupa praktik ibadah yang sungguh-sungguh. Gambaran kehidupan beragama bangsa Indonesia secara satiris ditayangkan dalam sinetron SCTV yang berjudul Islam KTP. Begitulah potret sebenarnya bagaimana kita menjalankan agama Islam.
Madrasah Diniyah yang notabene bertujuan memberikan pendidikan dan pengamalan ajaran-ajaran agama Islam, kiranya perlu merevitalisasi diri agar dapat berperan secara signifikan untuk mengatasi krisis moral bangsa ini. Ada 3 hal yang perlu mendapat perhatian dari stakeholder madrasah diniyah dan segenap warga masyarakat agar peran yang dijalankan madin bisa terlaksana dengan sukses dan optimal.
Pertama, peran sentral pengasuh madin yang biasanya dipegang oleh kyai atau ustadz harus dikembalikan pada posisi awalnya. Selama ini banyak kyai atau ustadz yang tertarik dan ditarik-tarik ke dalam area politik sehingga banyak lembaga madin yang terabaikan dan terbengkalai. Ini bukan berarti pengasuh tidak boleh berpolitik. Aktifitas berpolitik sah-sah saja, tetapi dengan tujuan meningkatkan eksistensi madin dan dalam rangka menyejahterakan warga madin.
Kedua, revitalisasi kurikulum madin yang lebih mengedepankan pembahasan dan pemecahan problema keagamaan yang actual. Selama ini kurikulum yang ada masih mengacu kepada kajian teks secara apa adanya, tidak ada penekanan terhadap persoalan-persoalan yang dihadapi siswa dan masyarakat umum dalam menghadapi era globalisasi dan informasi. Realitasnya, memang sudah ada beberapa madin yang mampu menangkap ‘tanda zaman’ dan mengantisipasinya dengan mumpuni. Namun masih banyak yang keteteran menghadapi tantangan zaman ini. Di sinilah perlunya forum yang berupa pokja (kelompok kerja) yang tidak hanya mengurusi masalah administrasi tetapi juga pengkajian kurikulum secara mendalam baik secara internal maupun eksternal.
Ketiga, penyadaran dan kesadaran-diri masyarakat tentang pentingnya peran madin menjadi menu wajib program sosialisasi yang harus dilakukan oleh tokoh-tokoh agama dan masyarakat. Langkah yang dilakukan oleh Gubernur Jatim, Soekarwo, yang menyatakan bahwa madin adalah pagar agama dan budaya yang wajib dilestarikan merupakan PR yang harus dilakukan oleh pimpinan di bawahnya. Juga bantuan pendanaan yang digagasnya harus menjadi program unggulan yang patut mendapat prioritas para bupati atau walikota. Yang lebih penting lagi adalah program-program itu berjalan secara berkesinambungan dan kontinyu, bukan program tebar pesona yang hanya berjalan sesaat.
Akhirnya, jika ketiga hal tersebut berjalan secara seimbang dan sinergis, kami berkeyakinan bahwa peran madin dalam menggerus dan mengikis krisis moral bangsa ini akan berjalan efektif dan mencapai hasil yang optimal, amin ya robbal ‘alamiiin…………
Oleh: Muslimin,SPd. *)
*) Penulis adalah staf pengajar SMP Islam Tikung dan Madin AL BIR Tikung Lamongan
Senin, 17 Maret 2014
Read more...
Puisi : Dia
Berputar tak kembali
Jatuh tak turun
Terlempar tak naik
Datang tak ada orang
Bagai angin lalu lalang
Dimanapun ada engkau
Kapan pun engkau hadir
Tajam pena tak kuasa menceritakan
Urainmu membuat aq malu
Datangmu …
Hadirmu…
Pergimu….
Hanya DIA yang tau …
Karya : Ahmad isroil, Ploro, Babat
Bagi Sahabat yang ingin mengirimkan artikel, berita daerah, berita foto, opini, cerpen, atau puisi, silahkan kirim ke admin@kabarlamongan.com atau ke tabloidlensalamongan@gmail.com
Terimah kasih bagi sahabat yang sudah mengirimkan karyanya.
Puisi : Dia
Jatuh tak turun
Terlempar tak naik
Datang tak ada orang
Bagai angin lalu lalang
Dimanapun ada engkau
Kapan pun engkau hadir
Tajam pena tak kuasa menceritakan
Urainmu membuat aq malu
Datangmu …
Hadirmu…
Pergimu….
Hanya DIA yang tau …
Karya : Ahmad isroil, Ploro, Babat
Bagi Sahabat yang ingin mengirimkan artikel, berita daerah, berita foto, opini, cerpen, atau puisi, silahkan kirim ke admin@kabarlamongan.com atau ke tabloidlensalamongan@gmail.com
Terimah kasih bagi sahabat yang sudah mengirimkan karyanya.
Puisi : Dia
Cerpen : Dek, Kau Tetap Istriku
Kabarlamongan.com : Sugio - Dalam sujudku di keheningan malam. Aku persimpuh kepada tuhan ilaihi robbi. Dialah tempatku memohon, meminta, dan mengadu di setiap keluh kesah hatiku. Tanganku pun tengadah memohon kemurahan Allah pencipta alam ini. Semoga keluargaku diberi rahmat penuh keberkahan dalam menjalani hidup. Semoga anakku menjadi anak yang solehah. Sehingga kebahagiaan dan rasa syukur selalu menyelimuti keluargaku. Akupun tak lupa mendoakan alharhuma istriku yang paling aku cinta. kesetiaannya sepenuhnya diabdikan untuk bersamaku, menuruti apa yang aku ucapkan hingga akhir hayatnya.
Istriku adalah sosok yang mengerti suami. Hatinya seperti malaikat. Kesabaran dan keikhlasanya menemaniku tak mampu aku ungkapkan dengan kata-kata. Telalu kasar jika aku hakimi kesetiaannya dengan kata-kata. Dialah perempuan yang mengabdikan jiwa raganya demi aku. Lelah dan letihnya tak mampu menghalangi langkah untuk melayaniku. Istriku adalah malaikat yang dilahirkan kedunia menemani hari-hariku tanpa membantah setiap perintahku.
Kerelaannya menjadi istri sangatlah ikhlas. Di kala sedihku tentang kegagalan dalam pekerjaan, istrikulah yang selalu memberi semangat untuk tetap sabar. Di kala aku sakit, istrikulah yang menjadi obat untuk selalu tegar dan kuat. Aku melihat sosok perempuan yang tak kenal lelah dan paling tegar yang sebelumnya tak perah aku temui. Dibalik kelembutan tubuhnya yang sederhana tersimpan kekuatan yang tak mampu aku terka. Dialah obat segala penyakit. Susah, sedih, lelah, terasa nikmat jika bersamanya. Senyumnya dan prilakunya begitu ikhlas, sehingga melihatnya terasa nyaman, tentram, penuh semangat, seperti saat aku mandi di telaga belakang rumahku di saat cuaca panas penuh keringat seketika hilang berganti kesegaran. Ini yang membuatku tetap menduda dan tak sanggup berpaling ke wanita lain. Meski lima belas tahun sudah istriku menghadap tuhan pencipta alam raya ini. Betapa hatiku sangat merindukan belai kasihnya yang lama tak kurasakan.
Tak terasa tubuhku yang bersimpuh di atas sajadah pakaianku telah basah. Dengan tangan masih tengadah, tubuhku yang bersimpuh di atas sajadah aku, melanjutkan doaku. Meski ingatan tentang istriku membuatku mengalirkan air mata sahi pakaianku yang tak sanggup aku bendung di pelupuk mata lagi, ditambah sesak nafas yang mengiringi tangisku. Doa-doa tetap ku panjatkan seperti yang telah diajarkan istriku untuk tetap tabah menghadapi cobaan hidup. Meski tak sekuat istriku dalam menghadapi cobaan, aku harus berusaha tetap semangat meneruskan sisa umurku.
Lelah tak menghalangi untuk tetap melangkah. Ya Allah ya tuhan ku. Kau yang Maha Mengetahui apa yang terbaik untukku dan almarhum istriku. Kau juga yang maha mengampuni segala salahan dan kekhilafan. Apunilah dosa istriku. Tempatkanlah dia di tempat yang terbaik. Jangan sesatkan dia saat menghadapMu. Berikanlah petunjuk ke arah rahmatMu. Pertemukanlah aku dengan istri dan anakku di surgamu nanti. Hanya kepadamu aku meminta dan hanya kepadamu aku kembali.
Ku akhiri doaku di keheningan malam di dalam kamarku. sambil merapikan sajadahku yang kuletakkan di hanger kamar. Aku menghapus air mata di pipi dan kurapikan pakaianku yang basah oleh air mata. Aku menuju ke Dipan dimana anakku telah tertidur. Aku memandangi wajahnya yang polos. Wajahnya sangat mirip dengan almarhuma ibunya.
Karena anakku inilah istri tercinta meninggalkanku. Saat itu istriku melahirkan putriku di rumah bidan yang dinas di kampungku. Karena terlalu besar bayi yang dilahirkan dan keterbatasan alat medis. Bidan yang menangani persalinan istri tercintaku menyuruhku untuk membawa ke rumah sakit terdekat. Saat itu, rumah sakit yang paling dekat sekitar 25 KM. Akupun membawanya ke rumah sakit dengan mobil yang kusewa diri luar kampung. Istriku merintih kesakitan saat aku angkat ke mobil. Baru kali itu perempuan yang kukenal paling tegar, paling kuat, menagis merintih-rintih di depanku dan air matanya mengalir ke pipi yang sebelumnya tak pernah kulihat, kecuali saat memanjatkan doa kepada ilaihi robbi.
Betapa hatiku bingung bercampur sedih tak karuan. Andai sakit itu bisa kupindahkan, aku ingin mengantikan sakit yang dirasakan istriku. Tak tega aku melihat rintihan istriku dan darah yang keluar dari rahimnya yang dengan cepat menutupi betis sampai mata kaki. Aku memeluk istriku mencoba membuatnya tenang. Aku pun mecoba tegar di mata istriku dan kubisik di telinganya “sabar ya dek, semua akan baik-baik saja.” Aku merasa tak berdaya menjadi suami yang tak dapat meringankan sakit yang diderita istriku. Ingin rasanya aku teriak sekencang-kencangnya meluapkan emosi. Rintihan istriku itu mencabit-cabit hatiku. Dia mengadu kepadaku kesakitan dengan jeritan yang tertahan-tahan. Dia tak tahan lagi dengan sakit yang dirasa. Aku menjadi binggu sekali saat itu, tak tega aku melihannya. Aku hanya bisa berdoa “ya Allah apa dosa istriku sehingga kau menghukumnya. Jadikanlah aku sebagai gantinya.”
“Mas, sakit mas” keluh istrku dengan tangis tertahan-tahan.
“tahan sebentar dek, sebentar lagi sanpai rumah sakit
“aku sudah tidak kuat, Mas” rintihnya lagi.
“sabar ya dek, semua akan baik-baik saja” hiburku.
Kurang dari lima belas menit kami sampai di rumah sakit. Istriku langsung aku angkat di kasir aku meminta kepada penjaganya untuk segera menangani istriku. Penanganan pun langsung dilakukan. Istriku di bawa ke ruang operasi. Sementara aku menunggu di luar ruang operasi dengan harap-harap cemas. “Ya Allah semoga baik-baik saja istri dan anakku. Tabahkanlah hati istriku.” Satu jam kemudian dokter keluar dan mengatakan “maaf bapak kami sudah berusaha sebaik mungkin anak bapak selamat tapi istri bapak tidak bisa kami selamatkan akibat terlalu banyak darah yang keluar.” Betapa remuk hatiku mendengarkannya. Rasa sedih, kecewa, marah yang aku simpan dari istriku tak mampu aku bendung. Aku menangis, berteriak sekuat dan semampuku.
Jika aku mengingat kisah ini, air mataku tak mampu terbendung dan mengalir secara otomatis seakan ada putaran kran yang jika diputar maka air keluar dengan derasnya. Aku mengusap-usap rambut anakku dan sesekali menepuk nyamuk di badanya. Begitu nyeyak tidurnya meski nyamuk telah menghisap darahnya.
Beberapa hari ini ia sakit panas yang tadi sore baru turun panasnya. Sehingga maklum jika malam ini tidurnya pulas. Akupun tak tega membangunkan mengajaknya solat malam. Mataku mulai ngantuk dan aku sandarkan tubuhku di samping anakku.
Suara adzan subuh terdengar. Aku bangkit dari tempat putriku tidur untuk mengambil wudlu di belakang rumah. Aku melihat anakku masih tertidur dengan nyenyak. Aku solat sendirian. Terntu saja diakhir witir aku tak lupa berdoa meminta rahmat dan kekuatan menjalankan hidup dijalan Allah. Tak lupa juga memohon agar disembuhkan anakku dari penyakitnya.
Sebenarnya anakku sudah tiga kali aku bawa berobat ke bidan yang dulu pernah membantu persalinan istriku. Namun putriku belum sembuh juga, penyakitnya begitu kerasan sekali singgah ditubuh putriku. Sejak sakit, anakku sesah sekali disuruh makan. Perlu menggujuknya agar dia makan. Makanya kini putriku semakin kurus.
Kini sang surya telah menampakkan wujudnya. Dari langit timur sang surya itu muncul. Aku membangunkan anakku yang tidur begitu nyeyaknya sejak tadi malam. Namun susah sekali aku membangunkanya. Beberapa kali anakku membangunkannya namun tak ada reaksi anakku untuk segera bangun. Akupun menjadi heran, tidak biasanya putriku susah dibangunkan. Dia tidak bergerak sedikit pun. Wajahnya pucat pasi. Aku letakkan tellingaku di dadanya tapi tidak ada detak jantungnya. Aku mulai khawatir aku cek hidungnya apakah masih ada nafasnya apa tidak. Ternyata nafasnyapun telah hilang. Aku menjadi tak binggung, pikiranku tak karuan dengan bertanya-tanya dalam hati. Kenapa dengan anakku?
Akhirnya aku sadar apa yang terjadi dengan anakku. Putriku telah meninggal. Secepat itu aku menangis tersedu-sedudu menangisi kepergian anakku, meratapi nasib yang aku alami. Putriku yang selama ini menjadi kekuatan dan semangat menjalani hari-hariku. Kenapa singkat sekali di menemaniku? Kenapa dia yang lebih dulu meninggal? Kenapa tidak aku saja?
Aku tidak boleh sedih. Ini adalah jalanku yang diberikan Allah. Aku harus menerima dan merelakannya. Harus ikhlas. Semoga anakku diterima disisiNYA. Aku akan selalu mendoakannmu, nak. Tunggu bapak di surga bersama ibumu. Bapak pasti menyusulmu. Kita akan berkumpul kembali. Menjadi keluarga yang selalu bahagia yang setiap saat ada canda dan tawa diantara kita. Tak akan kita kenal yang namanya kesedihan, kehampaan, kekecewaa, kepahitan hidup. Semua berubah menjadi kebahagiaan.
Pengarang: supendi
Bekerja di SMA Darul Ulum Sugio.
Istriku adalah sosok yang mengerti suami. Hatinya seperti malaikat. Kesabaran dan keikhlasanya menemaniku tak mampu aku ungkapkan dengan kata-kata. Telalu kasar jika aku hakimi kesetiaannya dengan kata-kata. Dialah perempuan yang mengabdikan jiwa raganya demi aku. Lelah dan letihnya tak mampu menghalangi langkah untuk melayaniku. Istriku adalah malaikat yang dilahirkan kedunia menemani hari-hariku tanpa membantah setiap perintahku.
Kerelaannya menjadi istri sangatlah ikhlas. Di kala sedihku tentang kegagalan dalam pekerjaan, istrikulah yang selalu memberi semangat untuk tetap sabar. Di kala aku sakit, istrikulah yang menjadi obat untuk selalu tegar dan kuat. Aku melihat sosok perempuan yang tak kenal lelah dan paling tegar yang sebelumnya tak perah aku temui. Dibalik kelembutan tubuhnya yang sederhana tersimpan kekuatan yang tak mampu aku terka. Dialah obat segala penyakit. Susah, sedih, lelah, terasa nikmat jika bersamanya. Senyumnya dan prilakunya begitu ikhlas, sehingga melihatnya terasa nyaman, tentram, penuh semangat, seperti saat aku mandi di telaga belakang rumahku di saat cuaca panas penuh keringat seketika hilang berganti kesegaran. Ini yang membuatku tetap menduda dan tak sanggup berpaling ke wanita lain. Meski lima belas tahun sudah istriku menghadap tuhan pencipta alam raya ini. Betapa hatiku sangat merindukan belai kasihnya yang lama tak kurasakan.
Tak terasa tubuhku yang bersimpuh di atas sajadah pakaianku telah basah. Dengan tangan masih tengadah, tubuhku yang bersimpuh di atas sajadah aku, melanjutkan doaku. Meski ingatan tentang istriku membuatku mengalirkan air mata sahi pakaianku yang tak sanggup aku bendung di pelupuk mata lagi, ditambah sesak nafas yang mengiringi tangisku. Doa-doa tetap ku panjatkan seperti yang telah diajarkan istriku untuk tetap tabah menghadapi cobaan hidup. Meski tak sekuat istriku dalam menghadapi cobaan, aku harus berusaha tetap semangat meneruskan sisa umurku.
Lelah tak menghalangi untuk tetap melangkah. Ya Allah ya tuhan ku. Kau yang Maha Mengetahui apa yang terbaik untukku dan almarhum istriku. Kau juga yang maha mengampuni segala salahan dan kekhilafan. Apunilah dosa istriku. Tempatkanlah dia di tempat yang terbaik. Jangan sesatkan dia saat menghadapMu. Berikanlah petunjuk ke arah rahmatMu. Pertemukanlah aku dengan istri dan anakku di surgamu nanti. Hanya kepadamu aku meminta dan hanya kepadamu aku kembali.
Ku akhiri doaku di keheningan malam di dalam kamarku. sambil merapikan sajadahku yang kuletakkan di hanger kamar. Aku menghapus air mata di pipi dan kurapikan pakaianku yang basah oleh air mata. Aku menuju ke Dipan dimana anakku telah tertidur. Aku memandangi wajahnya yang polos. Wajahnya sangat mirip dengan almarhuma ibunya.
Karena anakku inilah istri tercinta meninggalkanku. Saat itu istriku melahirkan putriku di rumah bidan yang dinas di kampungku. Karena terlalu besar bayi yang dilahirkan dan keterbatasan alat medis. Bidan yang menangani persalinan istri tercintaku menyuruhku untuk membawa ke rumah sakit terdekat. Saat itu, rumah sakit yang paling dekat sekitar 25 KM. Akupun membawanya ke rumah sakit dengan mobil yang kusewa diri luar kampung. Istriku merintih kesakitan saat aku angkat ke mobil. Baru kali itu perempuan yang kukenal paling tegar, paling kuat, menagis merintih-rintih di depanku dan air matanya mengalir ke pipi yang sebelumnya tak pernah kulihat, kecuali saat memanjatkan doa kepada ilaihi robbi.
Betapa hatiku bingung bercampur sedih tak karuan. Andai sakit itu bisa kupindahkan, aku ingin mengantikan sakit yang dirasakan istriku. Tak tega aku melihat rintihan istriku dan darah yang keluar dari rahimnya yang dengan cepat menutupi betis sampai mata kaki. Aku memeluk istriku mencoba membuatnya tenang. Aku pun mecoba tegar di mata istriku dan kubisik di telinganya “sabar ya dek, semua akan baik-baik saja.” Aku merasa tak berdaya menjadi suami yang tak dapat meringankan sakit yang diderita istriku. Ingin rasanya aku teriak sekencang-kencangnya meluapkan emosi. Rintihan istriku itu mencabit-cabit hatiku. Dia mengadu kepadaku kesakitan dengan jeritan yang tertahan-tahan. Dia tak tahan lagi dengan sakit yang dirasa. Aku menjadi binggu sekali saat itu, tak tega aku melihannya. Aku hanya bisa berdoa “ya Allah apa dosa istriku sehingga kau menghukumnya. Jadikanlah aku sebagai gantinya.”
“Mas, sakit mas” keluh istrku dengan tangis tertahan-tahan.
“tahan sebentar dek, sebentar lagi sanpai rumah sakit
“aku sudah tidak kuat, Mas” rintihnya lagi.
“sabar ya dek, semua akan baik-baik saja” hiburku.
Kurang dari lima belas menit kami sampai di rumah sakit. Istriku langsung aku angkat di kasir aku meminta kepada penjaganya untuk segera menangani istriku. Penanganan pun langsung dilakukan. Istriku di bawa ke ruang operasi. Sementara aku menunggu di luar ruang operasi dengan harap-harap cemas. “Ya Allah semoga baik-baik saja istri dan anakku. Tabahkanlah hati istriku.” Satu jam kemudian dokter keluar dan mengatakan “maaf bapak kami sudah berusaha sebaik mungkin anak bapak selamat tapi istri bapak tidak bisa kami selamatkan akibat terlalu banyak darah yang keluar.” Betapa remuk hatiku mendengarkannya. Rasa sedih, kecewa, marah yang aku simpan dari istriku tak mampu aku bendung. Aku menangis, berteriak sekuat dan semampuku.
Jika aku mengingat kisah ini, air mataku tak mampu terbendung dan mengalir secara otomatis seakan ada putaran kran yang jika diputar maka air keluar dengan derasnya. Aku mengusap-usap rambut anakku dan sesekali menepuk nyamuk di badanya. Begitu nyeyak tidurnya meski nyamuk telah menghisap darahnya.
Beberapa hari ini ia sakit panas yang tadi sore baru turun panasnya. Sehingga maklum jika malam ini tidurnya pulas. Akupun tak tega membangunkan mengajaknya solat malam. Mataku mulai ngantuk dan aku sandarkan tubuhku di samping anakku.
Suara adzan subuh terdengar. Aku bangkit dari tempat putriku tidur untuk mengambil wudlu di belakang rumah. Aku melihat anakku masih tertidur dengan nyenyak. Aku solat sendirian. Terntu saja diakhir witir aku tak lupa berdoa meminta rahmat dan kekuatan menjalankan hidup dijalan Allah. Tak lupa juga memohon agar disembuhkan anakku dari penyakitnya.
Sebenarnya anakku sudah tiga kali aku bawa berobat ke bidan yang dulu pernah membantu persalinan istriku. Namun putriku belum sembuh juga, penyakitnya begitu kerasan sekali singgah ditubuh putriku. Sejak sakit, anakku sesah sekali disuruh makan. Perlu menggujuknya agar dia makan. Makanya kini putriku semakin kurus.
Kini sang surya telah menampakkan wujudnya. Dari langit timur sang surya itu muncul. Aku membangunkan anakku yang tidur begitu nyeyaknya sejak tadi malam. Namun susah sekali aku membangunkanya. Beberapa kali anakku membangunkannya namun tak ada reaksi anakku untuk segera bangun. Akupun menjadi heran, tidak biasanya putriku susah dibangunkan. Dia tidak bergerak sedikit pun. Wajahnya pucat pasi. Aku letakkan tellingaku di dadanya tapi tidak ada detak jantungnya. Aku mulai khawatir aku cek hidungnya apakah masih ada nafasnya apa tidak. Ternyata nafasnyapun telah hilang. Aku menjadi tak binggung, pikiranku tak karuan dengan bertanya-tanya dalam hati. Kenapa dengan anakku?
Akhirnya aku sadar apa yang terjadi dengan anakku. Putriku telah meninggal. Secepat itu aku menangis tersedu-sedudu menangisi kepergian anakku, meratapi nasib yang aku alami. Putriku yang selama ini menjadi kekuatan dan semangat menjalani hari-hariku. Kenapa singkat sekali di menemaniku? Kenapa dia yang lebih dulu meninggal? Kenapa tidak aku saja?
Aku tidak boleh sedih. Ini adalah jalanku yang diberikan Allah. Aku harus menerima dan merelakannya. Harus ikhlas. Semoga anakku diterima disisiNYA. Aku akan selalu mendoakannmu, nak. Tunggu bapak di surga bersama ibumu. Bapak pasti menyusulmu. Kita akan berkumpul kembali. Menjadi keluarga yang selalu bahagia yang setiap saat ada canda dan tawa diantara kita. Tak akan kita kenal yang namanya kesedihan, kehampaan, kekecewaa, kepahitan hidup. Semua berubah menjadi kebahagiaan.
Pengarang: supendi
Bekerja di SMA Darul Ulum Sugio.
Rabu, 12 Maret 2014
Read more...
Opini : Pendidikan Negeri Ini Masih Mandul
Kabarlamongan.com : Lamongan - Banyak definisi pendidikan yang ditulis oleh para tokoh pendidikan menurut Versi dan kepentingan masing-masing. Bahkan tidak jarang kebutuhan pendidikan itu ditulis sebagai ilmu untuk memenuhi konsumsi sejagat insan. Dalam perkembangannya bahwa manusia selalu ingin berubah. Manusia tidak ingin hidup monoton dalam perkembangan peradabannya, yang konon pada jaman itu dipedomani Teori Behavioristik artinya manusia dituntut hanya sekedar berbuat, tidak melihat bagaimana dampak positif kehidupan yang dialami, bahkan tidak berorientasi pada hasil yang dilakukan
Teori ini sangat bertentangan dengan perkembangan peradaban manusia modern yang seharusnya dilakukan dalam rangka untuk mencapai kesempurnaan kebutuhan hidup. Sehingga timbullah Teori Konstruksivistik artinya manusia dalam menapaki hidupnya dituntut selalu ada perubahan positif dalam dirinya. Para kaum intelektual menyatakan bahwa dalam strata hidupnya untuk bisa selalu berubah hanya dengan pendidikan.
Bangsa Indonesia dalam perjalanannya, telah mengalami beberapa jaman yaitu: Jaman Penjajahan, Jaman Kemerdekaan (Identik dengan Jaman Orde Lama), Jaman Orde Baru, dan Jaman Reformasi. Dari Empat Jaman tersebut diatas Bangsa Indonesia telah merasakan manis dan pahit getirnya kehidupan saat ini Begitu juga pelaksanaan kehidupan dari Jaman ke Jaman tersebut selalu berubah. Dalam pergerakan untuk perubahan itulah yang dibutuhkan Bangsa Indonesia dalam rangka mencapai masyarakat sejahtera, Tentram, Damai yang sudah sesuai dengan Amanat Pembukaan Undang Undang Dasar Tahun 1945.
Kiat apa yang sangat penting agar Bahasa Indonesia tidak menjadi Bangsa yang ketergantungan, menjadi Bangsa pasar dan menjadi Bangsa penonton dari Bangsa-Bangsa yang maju.
Dari Sistem Pendidikan Nasional yang ada, masyarakat tidak menutup mata, bahwa telah menghasilkan Putra-Putri Bangsa yang cerdas, pandai, kreatif serta menguasai berbagai disiplin ilmu sesuai dengan keahliannya, tetapi hasilnya masih dalam ranah teori. Karena Pemerintah belum menfasilitasi anak-anak yang sangat berpotensi tersebut.
Seperti contoh, dari berbagai lomba Olimpiade baik tingkat nasional maupun tingkat internasional, Anak – Anak Indonesia selalu memdapat nominasi terbaik, selalu number one, dan selalu juara.
“Tetapi apa artinya bagi Anak-Anak yang juara…..?” Apabila pemerintah tidak memfasilitasi keahliannya itu sebagai tindak lanjut Agar Anak – anak tersebut berguna di negeri ini.
Ibarat pisau, yang diasah berbagai cara untuk mendapatkan pisau yang sangat tajam, tetapi apa artinya setelah pisau itu tajam, tetapiapaartinya setelah pisau itu tajam,” Digeletakno ngono wae” ( Dibiarkan begitu saja ) pisau itu tidak dimanfaatkan.
Butuh Peran Pemerintah Secara Utuh
1.Pemerintah Pusat maupun Pemerintah Daerah Agar menginventarisir anak-anak yang memiliki kompetensi sesuai dengan Bidangkeahlianya masing-masing, dan diklarifikasi.
2. Pemerintah Pusat maupun Pemerintah Daerah berkeharusan menciptakan wadah untuk menampung dan menyalurkan bakat dan kemampuan anak-anak yang memiliki potensi tersebut.
3. Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah serta pihak swasta agar Bersinergis untuk mendirikan BUMN ( Badan Usaha Milik Negara ) dan BUMD ( Badan Usaha Milik Daerah ) beserta fasilitasnya.
Contoh: - Bagi Anak-Anak yang memiliki kompetensi di Bidang Elektro, diberikan wewenang untuk mengolah dan mengelola BUMN dan BUMD tersebut dsa;lam rangka memproduksi kebutuhan yang berkaitan dengan Elektro, misalnya ( Televisi, Komputer/ laptop , Mesin Cuci, Air Condition. ), dan sebagainya.
-Begitu juga anak-anak yang ahli dalam Bidang Tehnik Mesin atau Automotif diberikan wewenang untuk mengolah dan mengelola BUMN/ BUMD tersebut untuk memproduksi motor pengerak, dan motor, serta mobil dalam rangka memenuhi kebutuhan masyarakat dari pada mengimpor.
- Bagi Anak_Anak yang memiliki kompetensi di Bidang Kimia, semestinya Banyak yang harus dikembangkan dan dihasilkan , misalnya diberikan wewenang untuk mengolah dan mengelola BUMN/ BUMD tersebut yang memproduksi Obat- Obatan , untuk konsumsi domestic maupun untuk diekspor.
Karena Negara Indonesia adalah Negara yang kaya sumber bahan Obat-Obatan, tinggal sumber daya manusianya yang harus lebih didayagunakan.
Dan masih banyak kompetensi yang lain dari anak-anak Bangsa Indonesia yang perlu digali, dikembangkan dan dimanfaatkan untuk mencapai dan memenuhi kebutuhan hidup yang serba Global Sat ini.
Seharusnya, BUMN dan BUMD yang didirikan oleh Pemerintah tersebut terilhami tujuan sebagai berikut :
Mengatasi tenaga pengangguran yang selama ini menjadi issu yang serius dikalangan remaja usia Produktif.
Sebagai Media Formal Pemerintah, untuk memberi kemudahan izin Industri yang di butuhkan dari berbagai komponen Masyarakat, khususnya Industri yang berkaitan dengan penyaluran potensi Anak Bangsa.
Oleh : Drs. H. Samirin Akbar, M.Pd (Purna PNS)
Pendidikan Negeri Ini Masih Mandul Pendidikan Negeri Ini Masih Mandul Pendidikan Negeri Ini Masih Mandul Pendidikan Negeri Ini Masih Mandul Pendidikan Negeri Ini Masih Mandul Pendidikan Negeri Ini Masih Mandul Pendidikan Negeri Ini Masih Mandul
Teori ini sangat bertentangan dengan perkembangan peradaban manusia modern yang seharusnya dilakukan dalam rangka untuk mencapai kesempurnaan kebutuhan hidup. Sehingga timbullah Teori Konstruksivistik artinya manusia dalam menapaki hidupnya dituntut selalu ada perubahan positif dalam dirinya. Para kaum intelektual menyatakan bahwa dalam strata hidupnya untuk bisa selalu berubah hanya dengan pendidikan.
Bangsa Indonesia dalam perjalanannya, telah mengalami beberapa jaman yaitu: Jaman Penjajahan, Jaman Kemerdekaan (Identik dengan Jaman Orde Lama), Jaman Orde Baru, dan Jaman Reformasi. Dari Empat Jaman tersebut diatas Bangsa Indonesia telah merasakan manis dan pahit getirnya kehidupan saat ini Begitu juga pelaksanaan kehidupan dari Jaman ke Jaman tersebut selalu berubah. Dalam pergerakan untuk perubahan itulah yang dibutuhkan Bangsa Indonesia dalam rangka mencapai masyarakat sejahtera, Tentram, Damai yang sudah sesuai dengan Amanat Pembukaan Undang Undang Dasar Tahun 1945.
Kiat apa yang sangat penting agar Bahasa Indonesia tidak menjadi Bangsa yang ketergantungan, menjadi Bangsa pasar dan menjadi Bangsa penonton dari Bangsa-Bangsa yang maju.
Dari Sistem Pendidikan Nasional yang ada, masyarakat tidak menutup mata, bahwa telah menghasilkan Putra-Putri Bangsa yang cerdas, pandai, kreatif serta menguasai berbagai disiplin ilmu sesuai dengan keahliannya, tetapi hasilnya masih dalam ranah teori. Karena Pemerintah belum menfasilitasi anak-anak yang sangat berpotensi tersebut.
Seperti contoh, dari berbagai lomba Olimpiade baik tingkat nasional maupun tingkat internasional, Anak – Anak Indonesia selalu memdapat nominasi terbaik, selalu number one, dan selalu juara.
“Tetapi apa artinya bagi Anak-Anak yang juara…..?” Apabila pemerintah tidak memfasilitasi keahliannya itu sebagai tindak lanjut Agar Anak – anak tersebut berguna di negeri ini.
Ibarat pisau, yang diasah berbagai cara untuk mendapatkan pisau yang sangat tajam, tetapi apa artinya setelah pisau itu tajam, tetapiapaartinya setelah pisau itu tajam,” Digeletakno ngono wae” ( Dibiarkan begitu saja ) pisau itu tidak dimanfaatkan.
Butuh Peran Pemerintah Secara Utuh
1.Pemerintah Pusat maupun Pemerintah Daerah Agar menginventarisir anak-anak yang memiliki kompetensi sesuai dengan Bidangkeahlianya masing-masing, dan diklarifikasi.
2. Pemerintah Pusat maupun Pemerintah Daerah berkeharusan menciptakan wadah untuk menampung dan menyalurkan bakat dan kemampuan anak-anak yang memiliki potensi tersebut.
3. Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah serta pihak swasta agar Bersinergis untuk mendirikan BUMN ( Badan Usaha Milik Negara ) dan BUMD ( Badan Usaha Milik Daerah ) beserta fasilitasnya.
Contoh: - Bagi Anak-Anak yang memiliki kompetensi di Bidang Elektro, diberikan wewenang untuk mengolah dan mengelola BUMN dan BUMD tersebut dsa;lam rangka memproduksi kebutuhan yang berkaitan dengan Elektro, misalnya ( Televisi, Komputer/ laptop , Mesin Cuci, Air Condition. ), dan sebagainya.
-Begitu juga anak-anak yang ahli dalam Bidang Tehnik Mesin atau Automotif diberikan wewenang untuk mengolah dan mengelola BUMN/ BUMD tersebut untuk memproduksi motor pengerak, dan motor, serta mobil dalam rangka memenuhi kebutuhan masyarakat dari pada mengimpor.
- Bagi Anak_Anak yang memiliki kompetensi di Bidang Kimia, semestinya Banyak yang harus dikembangkan dan dihasilkan , misalnya diberikan wewenang untuk mengolah dan mengelola BUMN/ BUMD tersebut yang memproduksi Obat- Obatan , untuk konsumsi domestic maupun untuk diekspor.
Karena Negara Indonesia adalah Negara yang kaya sumber bahan Obat-Obatan, tinggal sumber daya manusianya yang harus lebih didayagunakan.
Dan masih banyak kompetensi yang lain dari anak-anak Bangsa Indonesia yang perlu digali, dikembangkan dan dimanfaatkan untuk mencapai dan memenuhi kebutuhan hidup yang serba Global Sat ini.
Seharusnya, BUMN dan BUMD yang didirikan oleh Pemerintah tersebut terilhami tujuan sebagai berikut :
- Untuk emberikan motivasi belajar anak – anak yang lebih giat karenaPemerintah member peluang pasar kerja yang jelas.
- Untuk menampung Tenaga kerja yg seluas – luasnya dalam rangka
Mengatasi tenaga pengangguran yang selama ini menjadi issu yang serius dikalangan remaja usia Produktif.
- Untuk mengatasi agar bangsa Indonesia keluar dari ketergantungan Bangsa – Bangsa lain.
- Untuk mengantisipasi datangnya pasar bebas ASEAN, pasar bebas ASIA, dan pasar bebas Dunia. Sekaligus untuk membendung Bangsa Indonesia menjadi Bangsa pasar, dan Bangsa penonton. Sehingga Bangsa Indonesia mampu bersaing dengan Negara – Negara di dunia.
Sebagai Media Formal Pemerintah, untuk memberi kemudahan izin Industri yang di butuhkan dari berbagai komponen Masyarakat, khususnya Industri yang berkaitan dengan penyaluran potensi Anak Bangsa.
Oleh : Drs. H. Samirin Akbar, M.Pd (Purna PNS)
Pendidikan Negeri Ini Masih Mandul Pendidikan Negeri Ini Masih Mandul Pendidikan Negeri Ini Masih Mandul Pendidikan Negeri Ini Masih Mandul Pendidikan Negeri Ini Masih Mandul Pendidikan Negeri Ini Masih Mandul Pendidikan Negeri Ini Masih Mandul
Senin, 10 Februari 2014
Read more...
Cerpen : Sepurone, Nab!
Kabarlamongan.com : Lamongan - Cerpen : Hujan yang disertai angin kencang tak kunjung reda. Pohon-pohon bertumbangan. Atap-atap rumah beterbangan. Perkakas rumah tangga porak poranda. Binatang piaraan berkeliaran karena kandangnya ambruk. Tak ada satu pun benda yang utuh dan berdiam di tempat dengan benar.
Gumpalan mendung masih bergelayut seperti sarang lebah. Mendung hitam itu berlarian ke sana kemari seperti kebingungan mencari tempat. Percikan cahaya kilat diiringi suara petir menggelagar seperti hari akan kiamat tak henti-henti bersabung di angkasa.
Sementara itu para penduduk mengemasi barang-barangnya yang masih layak digunakan. Mereka juga membawa bahan makanan serta minuman. Ada pula dari mereka yang membawa binatang ternaknya ke pengungsian.
Dari balai desa terdengar seruan agar warga cepat meninggalkan rumahnya. Mereka diimbau segera ke tempat yang lebih aman karena ketinggian air di Bengawan Solo sudah melebihi ambang batas normal. Seperti tahun-tahun yang lalu, jika kondisi air sudah seperti itu, maka tanggul penahan air Bengawan Solo akan jebol karena tidak kuat menahan gerusan air.
“Ayo, cepat mengungsi!” Suara menggema dari balai desa.
Akhirnya para warga berduyun-duyun menuju ke tempat pengungsian yang telah disediakan oleh para relawan.
Beberapa relawan turun ke kampung. Mereka menyisir rumah-rumah warga untuk memastikan bahwa penghuninya sudah meninggalkan rumahnya. Satu demi satu rumah mereka lihat. Mereka tidak menemukan warga yang masih bertahan di rumahnya.
Setelah mereka yakin bahwa warga sudah meninggalkan rumahnya dan mereka akan kembali ke posko, tiba-tiba mereka dikejutkan suara orang batuk-batuk dari rumah yang berada di tempat paling ujung. Dua dari lima relawan itu kembali menuju ke rumah tersebut.
“Kulonuwun! Permisi!” kata mereka serempak.
Mereka kaget saat melihat seorang kakek yang duduk di atas panggung rumahnya. Kakek itu terlihat santai sambil menikmati rokok kelobot yang membara di mulutnya. Dia tak menghiraukan kedatangan dua orang relawan yang akan mengevakuasinya.
“Kek, monggo ikut kami ke pengungsian!” pinta salah satu relawan.
“Mboten! Kulo mboten purun ngusi,” kata kakek dengan bahasa Jawa kromo inggil.
“Mari, Kek. Air Bengawan Solo sudah semakin tinggi. Tanggul penahannya sudah retak-retak. Sebentar lagi tanggul akan jebol,” bujuknya.
Kakek itu hanya menggelang-gelengkan kepala. Dia tidak mau dievakuasi ke tempat pengungsian. Dia bersikukuh untuk tetap bertahan di panggung rumahnya di bawah ancaman banjir yang dasyat.
Salah satu dari relawan itu naik ke panggung rumah kakek itu. Dia ingin membujuknya dari jarak yang lebih dekat. Si kakek bergerak. Ia menjauh dari petugas yang akan mendekatinya.
“Mboten! Saestu kulo mboten purun ngusi. Yen, kulo nderek ngusi, sinten ingkang jagi barang-barang niki?” kata Si Kakek sambil menunjukkan barang serta pakaian wanita di belakangnya.
Kakek yang masih mengenakan kopyah dan berkaos oblong warna putih itu tetap tidak mau menuruti permintaan petugas. Dia beralasan menjaga barang serta pakaian istrinya yang masih disimpan di dalam kardus mie.
Seminggu yang lalu, Jaenab, istri kakek tersebut, meninggal dunia. Sebelum meninggal, istrinya berpesan agar dia menjaga barang-barang berharga serta pakaiannya di rumah. Waktu itu, hujan belum turun selebat ini dan debit air di Bengawan Solo masih normal sehingga istrinya berpesan seperti itu. Alasan itulah yang diucapkan Si Kakek setiap relawan membujuknya agar dia turun dari panggung lalu meninggalkan rumahnya ke pengungsian.
“Marilah, Kek! Nanti kami bawakan barang-barang kakek ke pengugsian!”
“Yo, mboten saget. Pesene mbahne, kulo dikengken jagi barang-barang niki ten griyo,” sanggahnya.
“Kalau Kakek di suruh menjaga barang-barang ini di rumah, kenapa kakek membawa barang-barang ini ke atas panggung? Berarti Kakek sudah tidak menjaga amanat nenek,” kata relawan yang sejak tadi berdiri di atas tangga panggung rumah.
“Dos pundi maleh, lawong bade banjir!”
“Ketinggian banjir yang akan melanda desa ini diperkirakan lebih tinggi daripada banjir tahun lalu. Rumah kakek akan tenggelam bahkan roboh terseret banjir. Jika seperti itu maka barang-barang serta pakaian nenek yang dititipkan kepada Kakek akan hanyut lalu hilang.”
“Mboten nopo-nopo. Ical nggeh pun sing penting kulo sampun jagi!”
“Kami tidak mempermasalahkan barang dan pakaian itu hilang. Akan tetapi, kami mempermasalahkan keselamatan Kakek. Kalau kakek tenggelam lalu meninggal bagaimana?” tanya petugas.
“Pejah mboten nopo-nopo. Kulo sampun janji sehidup semati kalian estri kulo,” jawab Si Kakek dengan nada kesal.
Petugas itu tertegun. Dia heran terhadap sikap Si Kakek yang memegang teguh janjinya walau bahaya banjir mengancam dirinya. Petugas yang dilengkapi dengan pakaian pelampung itu hanya diam. Dia kehabisan cara untuk membujuk kakek tersebut. Akhirnya, petugas itu turun untuk berdiskusi dengan rekannya yang menunggu di bawah.
Setelah beberapa saat berdiskusi, petugas itu kembali naik ke tangga panggung rumah Si Kakek. Sedangkan, rekannya pergi ke posko untuk meminta bantuan kepada rekan-rekan tim relawan yang lain untuk mengevakuasi kakek ini dengan cara paksa. Hal ini dilakukan karena mereka yakin tidak akan berhasil melunakkan hati kakek dengan kata-kata saja kalau prinsip Si Kakek sudah dilandasi rasa cinta kepada istrinya yang sudah meninggal.
Sepuluh orang relawan datang. Mereka segera masuk ke rumah Si Kakek untuk mengevakuasi paksa kakek itu.
“Loh, lah nopo sampeyan iki kok nyekel kulo?” tanya Si Kakek.
Para relawan tidak menghiraukan pertanyaan Si Kakek. Mereka tetap memindah paksa Si Kakek yang keras kepala ini dengan sigap. Si Kakek meronta. Ia ingin lepas dari dekapan para relawan. Kedua tangannya berontak ingin menggapai barang-barangnya yang sudah dipanggul relawan yang lain. Namun, apa daya karena tangan-tangan relawan itu lebih kekar dan lebih kuat daripada tenaganya.
“Nab...,Jaenab...! Supurone aku gak iso njogo pesenmu!” teriak Si kakek walau dia berada di atas panggulan beberapa relawan.
Beberapa saat setelah Si Kakek berhasil di evakuasi ke pengungsian, tanggul Bengawan Solo yang berada di atas kempung tersebut jebol. Air menyapu bersih permukiman yang berada di bantaran tanggul itu. Rumah-rumah serta bangunan lain yang ada di kampung tak ada yang tersisa. Kampung Si Kakek sekarang berubah menjadi lautan tak bertepi. Hamparan gelombang serta arus deras air Bengawan Solo telah melenyapkan semua kenangan masa lalunya bersama Jaenab.
Si Kakek hanya bisa termenung. Ia duduk terdiam di atas buntalan pakaian istrinya yang dibawa ke pengungsian. Air matanya mengalir, mengarungi pipi keriput tuanya. Dia mengenang masa-masa indahnya saat hidup bersama Jaenab.
Hujan turun semakin lebat. Si Kakek berdiri lalu bergeser lebih ke dalam. Ia menyelamatkan dirinya dan barang bawaannya dari air hujan sambil berdesakan dengan pengungsi-pengungsi lain yang berada di dalam tenda penampungan. (*)
Jawa Timur kode pos 62257
Gumpalan mendung masih bergelayut seperti sarang lebah. Mendung hitam itu berlarian ke sana kemari seperti kebingungan mencari tempat. Percikan cahaya kilat diiringi suara petir menggelagar seperti hari akan kiamat tak henti-henti bersabung di angkasa.
Sementara itu para penduduk mengemasi barang-barangnya yang masih layak digunakan. Mereka juga membawa bahan makanan serta minuman. Ada pula dari mereka yang membawa binatang ternaknya ke pengungsian.
Dari balai desa terdengar seruan agar warga cepat meninggalkan rumahnya. Mereka diimbau segera ke tempat yang lebih aman karena ketinggian air di Bengawan Solo sudah melebihi ambang batas normal. Seperti tahun-tahun yang lalu, jika kondisi air sudah seperti itu, maka tanggul penahan air Bengawan Solo akan jebol karena tidak kuat menahan gerusan air.
“Ayo, cepat mengungsi!” Suara menggema dari balai desa.
Akhirnya para warga berduyun-duyun menuju ke tempat pengungsian yang telah disediakan oleh para relawan.
Beberapa relawan turun ke kampung. Mereka menyisir rumah-rumah warga untuk memastikan bahwa penghuninya sudah meninggalkan rumahnya. Satu demi satu rumah mereka lihat. Mereka tidak menemukan warga yang masih bertahan di rumahnya.
Setelah mereka yakin bahwa warga sudah meninggalkan rumahnya dan mereka akan kembali ke posko, tiba-tiba mereka dikejutkan suara orang batuk-batuk dari rumah yang berada di tempat paling ujung. Dua dari lima relawan itu kembali menuju ke rumah tersebut.
“Kulonuwun! Permisi!” kata mereka serempak.
Mereka kaget saat melihat seorang kakek yang duduk di atas panggung rumahnya. Kakek itu terlihat santai sambil menikmati rokok kelobot yang membara di mulutnya. Dia tak menghiraukan kedatangan dua orang relawan yang akan mengevakuasinya.
“Kek, monggo ikut kami ke pengungsian!” pinta salah satu relawan.
“Mboten! Kulo mboten purun ngusi,” kata kakek dengan bahasa Jawa kromo inggil.
“Mari, Kek. Air Bengawan Solo sudah semakin tinggi. Tanggul penahannya sudah retak-retak. Sebentar lagi tanggul akan jebol,” bujuknya.
Kakek itu hanya menggelang-gelengkan kepala. Dia tidak mau dievakuasi ke tempat pengungsian. Dia bersikukuh untuk tetap bertahan di panggung rumahnya di bawah ancaman banjir yang dasyat.
Salah satu dari relawan itu naik ke panggung rumah kakek itu. Dia ingin membujuknya dari jarak yang lebih dekat. Si kakek bergerak. Ia menjauh dari petugas yang akan mendekatinya.
“Mboten! Saestu kulo mboten purun ngusi. Yen, kulo nderek ngusi, sinten ingkang jagi barang-barang niki?” kata Si Kakek sambil menunjukkan barang serta pakaian wanita di belakangnya.
Kakek yang masih mengenakan kopyah dan berkaos oblong warna putih itu tetap tidak mau menuruti permintaan petugas. Dia beralasan menjaga barang serta pakaian istrinya yang masih disimpan di dalam kardus mie.
Seminggu yang lalu, Jaenab, istri kakek tersebut, meninggal dunia. Sebelum meninggal, istrinya berpesan agar dia menjaga barang-barang berharga serta pakaiannya di rumah. Waktu itu, hujan belum turun selebat ini dan debit air di Bengawan Solo masih normal sehingga istrinya berpesan seperti itu. Alasan itulah yang diucapkan Si Kakek setiap relawan membujuknya agar dia turun dari panggung lalu meninggalkan rumahnya ke pengungsian.
“Marilah, Kek! Nanti kami bawakan barang-barang kakek ke pengugsian!”
“Yo, mboten saget. Pesene mbahne, kulo dikengken jagi barang-barang niki ten griyo,” sanggahnya.
“Kalau Kakek di suruh menjaga barang-barang ini di rumah, kenapa kakek membawa barang-barang ini ke atas panggung? Berarti Kakek sudah tidak menjaga amanat nenek,” kata relawan yang sejak tadi berdiri di atas tangga panggung rumah.
“Dos pundi maleh, lawong bade banjir!”
“Ketinggian banjir yang akan melanda desa ini diperkirakan lebih tinggi daripada banjir tahun lalu. Rumah kakek akan tenggelam bahkan roboh terseret banjir. Jika seperti itu maka barang-barang serta pakaian nenek yang dititipkan kepada Kakek akan hanyut lalu hilang.”
“Mboten nopo-nopo. Ical nggeh pun sing penting kulo sampun jagi!”
“Kami tidak mempermasalahkan barang dan pakaian itu hilang. Akan tetapi, kami mempermasalahkan keselamatan Kakek. Kalau kakek tenggelam lalu meninggal bagaimana?” tanya petugas.
“Pejah mboten nopo-nopo. Kulo sampun janji sehidup semati kalian estri kulo,” jawab Si Kakek dengan nada kesal.
Petugas itu tertegun. Dia heran terhadap sikap Si Kakek yang memegang teguh janjinya walau bahaya banjir mengancam dirinya. Petugas yang dilengkapi dengan pakaian pelampung itu hanya diam. Dia kehabisan cara untuk membujuk kakek tersebut. Akhirnya, petugas itu turun untuk berdiskusi dengan rekannya yang menunggu di bawah.
Setelah beberapa saat berdiskusi, petugas itu kembali naik ke tangga panggung rumah Si Kakek. Sedangkan, rekannya pergi ke posko untuk meminta bantuan kepada rekan-rekan tim relawan yang lain untuk mengevakuasi kakek ini dengan cara paksa. Hal ini dilakukan karena mereka yakin tidak akan berhasil melunakkan hati kakek dengan kata-kata saja kalau prinsip Si Kakek sudah dilandasi rasa cinta kepada istrinya yang sudah meninggal.
Sepuluh orang relawan datang. Mereka segera masuk ke rumah Si Kakek untuk mengevakuasi paksa kakek itu.
“Loh, lah nopo sampeyan iki kok nyekel kulo?” tanya Si Kakek.
Para relawan tidak menghiraukan pertanyaan Si Kakek. Mereka tetap memindah paksa Si Kakek yang keras kepala ini dengan sigap. Si Kakek meronta. Ia ingin lepas dari dekapan para relawan. Kedua tangannya berontak ingin menggapai barang-barangnya yang sudah dipanggul relawan yang lain. Namun, apa daya karena tangan-tangan relawan itu lebih kekar dan lebih kuat daripada tenaganya.
“Nab...,Jaenab...! Supurone aku gak iso njogo pesenmu!” teriak Si kakek walau dia berada di atas panggulan beberapa relawan.
Beberapa saat setelah Si Kakek berhasil di evakuasi ke pengungsian, tanggul Bengawan Solo yang berada di atas kempung tersebut jebol. Air menyapu bersih permukiman yang berada di bantaran tanggul itu. Rumah-rumah serta bangunan lain yang ada di kampung tak ada yang tersisa. Kampung Si Kakek sekarang berubah menjadi lautan tak bertepi. Hamparan gelombang serta arus deras air Bengawan Solo telah melenyapkan semua kenangan masa lalunya bersama Jaenab.
Si Kakek hanya bisa termenung. Ia duduk terdiam di atas buntalan pakaian istrinya yang dibawa ke pengungsian. Air matanya mengalir, mengarungi pipi keriput tuanya. Dia mengenang masa-masa indahnya saat hidup bersama Jaenab.
Hujan turun semakin lebat. Si Kakek berdiri lalu bergeser lebih ke dalam. Ia menyelamatkan dirinya dan barang bawaannya dari air hujan sambil berdesakan dengan pengungsi-pengungsi lain yang berada di dalam tenda penampungan. (*)
Lamongan, Januari 2013
Cerpen karya Ahmad Zaini*
*Cerpenis adalah penulis buku kumpulan cerpen Telaga Lanang
serta sebagai pengajar di SMARaudlatul Muta’allimin Babat
dan SMA Mambaul Ulum Wanar Pucuk.
BIODATA PENULIS
- Nama : A. Zaini
- Tempat, tanggal lahir : Lamongan, 7 Mei 1976
- Agama : Islam
- Alamat : Jalan Ronggopati RT 02 RW 02 Wanar Pucuk Lamongan
Jawa Timur kode pos 62257
- Nomor Handphone : 081330099757
Jumat, 03 Januari 2014
Read more...
CERPEN : KETABAHAN HATI ZAKIYA
Kabarlamongan.com : Lamongan - Tut tut tut... suara telfon yang usai. Tiba-tiba hanphone pink Zakiya lepas dari genggamannya. Dia terduduk tak berdaya, dan butiran bening itu mengalir membasahi pipi lembutnya yang merah merona. “kamu kenapa zakiya? Kenapa kamu menangis?” zakiya tidak menghiraukan pertanya’an fara dia tetap menangis dan terlihat sangat sedih. “Zakiya... ada apa?” zakiya tetap tidak menghiraukan fara, dia berlalu pergi. Terlihat handphone zakiya tergeletak di lantai, fara mengambilnya dan melihat, barangkali ada hal yang berhubungan dengan menangisnya zakiya. Di handphone itu terlihat ada panggilan masuk atas nama Arsyil. “Arsyil? Kenapa zakiya menangis setelah menerima telephone dari Arsyil?” lalu fara mencoba membuka pesan masuk di handphone zakiya, ternyata isi kotak masuk dipenuhi nama Arsyil. Fara semakin heran, ada hubungan apa antara Arsyil dengan Zakiya. Di sms itu terlihat Arsyil dan Zakiya sedang bertengkar, dan mereka saling mengungkit cinta.
Zakiya yang berlari keluar dari tempat kos-nya, dia berhenti disebuah taman. Dia duduk diatas kursi taman yang kebetulan kosong. Sore itu taman dalam keadaan sepi. “Kamu memang pemain cinta Arsyil...” teriak zakiya kesal.”sejak dulu aku menyayangimu, bahkan sampai sekarang. Tapi aku tidak berani mengatakannya, dan aku tidak menghiraukan rasa ini. Aku mencoba lupakanmu dengan menjalin hubungan bersama Andi, sampai aku mulai menyayangi andi, kamu datang dan membawa cinta. Tak pernah sedikitpun aku berfikir kamu akan mencintaiku. Karena selama kita SMA , kamu tidak pernah bersikap manis denganku, kamu selalu mengejekku, mengkritik bahkan tak jarang kamu mengajakku berdebat. Tapi anehnya, aku tak pernah benci atau dendam padamu. Aku tetap memperhatikanmu, aku tetap menghawatirkanmu bahkan aku tetap menganggapmu sahabatku. Aku sadar, dibalik sikap burukmu itu, kamu temanku yang baik. Sikapmu yang kasar itu tidak pernah melukaiku, tapi malah selalu memotifasiku. Aku selalu tersenyum dengan ejekan-ejekanmu. Aku selalu rindu hina’anmu. Tak kusangka, selama ini kau juga punya rasa padaku, kau menyuruhku menganggap semua ejekan,kritikan dan perdebatan kita itu bukti perhatianmu. Tapi kamu datang terlambat Arsyil.. Andi sangat menyayangiku, aku tak mampu mengecewakannya.. dia terlanjur menganggapku juga menyayanginya. Dan nisa.. nisa juga menyayangimu, dia merasa kalau kamu juga menyayanginya.. kenapa kita harus terjebak dalam cinta segi empat ini Arsyil??” Tak lama, Fara datang menghampiri zakiya, fara bersanding dengan zakiya. Zakiya memalingkan wajahnya, dia tak mau sahabatnya itu melihat linangan deras air matanya yang membasahi pipinya. Fara meraih wajah zakiya tepat didepan wajahnya, mata mereka saling menatap, akan tetapi zakiya mencoba berpaling. “Zakiya... ceritakan semuanya padaku, sahabatmu ini akan selalu siap mendengarkan ceritamu, bagilah dukamu itu padaku, agar kamu merasa lebih baik” “tidak fara, aku tak mau membebanimu, biarlah luka ini aku sendiri yang menanggungnya” “jangan kamu bersikap seperti itu sahabatku, aku sakit melihatmu seperti ini”
“aku harus bagaimana fara.. ternyata arsyil juga mencintaiku, tapi aku sudah terlanjur memberi harapanku pada Andi, aku tak bisa jika harus mengecewakan orang yang mencintaiku. Begitu juga dengan Arsyil, dia juga sudah terlanjur memberi harapannya pada nisa.. hatiku sakit, saat aku melihat nisa bersama Arsyil. Dan tadi, Arsyil dengan mudahnya menyuruhku melupakannya”. “zakiya, aku mengerti dengan perasaanmu saat ini, aku tahu kamu kecewa.. tapi cobalah kamu berfikir. Ini cobaan dari Allah, kamu harus sabar dan tabah. Ini cobaan untuk cinta kalian, pasrahkan segalanya kepada Allah. Percayalah, Allah tidak pernah memberi ujian kepada hambanya melebihi batas kemampuannya. Semuanya itu akan indah pada waktunya” Fara mengusap air mata zakiya, mereka saling berbalas senyuman. “trimakasih fara, kata-katamu telah menyejukkan hatiku. Benar katamu tadi, aku pasrahkan segalanya kepada-Mu Ya Allah.. J” “kalau begitu, hari sudah semakin larut.. sebaiknya kita kembali ke kamar kost kita” “baiklah fara”
“Ya Rabbi.... dalam sujudku aku bersimpuh, dalam do’aku aku memohon. Berikanlah hamba kekuatan untuk menghadapi semua ini, berikanlah hamba kesabaran untuk melalui coba’anMu. Jika memang Arsyil tercipta untuk hamba, hamba yakin cepat atau lambat kita akan bertemu. Dan jika ternyata Andi adalah jodohku, aku ikhlash Ya Rabb.. aku percaya, Andi memang yang terbaik untukku. Hamba Pasrahkan segalanya Kepada-Mu. Amin ya Robbal alamin” dalam do’a zakiya, dia melelehkan butiran air matanya. dia membaca ayat-ayat indah Allah. Semua itu lebih membuat hati zakiya semakin tenang.
Tok tok tok.. “Assalamu’alaikum” Fara membukakan pintu. “Wa’alaikum salam.. Andi? Oh ya silahkan masuk, kamu mencari zakiya ya..”. “iya fara, dapatkah aku bertemu dengannya?” “tentu Andi, tunggulah sebentar, aku akan memangilnya untukmu” “trimaksih banyak fara”.
“zakiya, Andi ingin bertemu denganmu”. “tapi fara, aku dalam keadaan seperti ini, tidak mungkin aku menemuinya. Pasti dia akan banyak bertanya padaku” “sudahlah zakiya, sudah cukup kamu menyembunyikan lukamu ini, sudah saatnya Andi tahu, katakan padanya tentang kebenaran ini. Katakan zakiya, walaupun itu menyakitkan” “tapi fara, bagaimana kalau andi kecewa?” “zakiya, lebih baik andi kecewa sekarang daripada kamu terus-terusan menyembunyikan kebenaran darinya”. “baiklah sahabatku, aku akan berkata jujur padanya. Terimaksih, karena kamu selalu menjadi sahabat terbaikku”. “sudah sepantasnya aku seperti itu padamu sahabatku”.
Zakiya, keluar menemui Andi. Dia mencoba menampakkan senyumannya, menutupi luka hatinya. “Andi, maaf jika lama menunggu” “tidak apa zakiya, aku bisa memakluminya” “oh ya, ada perlu apa kamu ingin bertemu denganku?” “begini, kurasa jangan terlalu lama kita bersama tanpa ikatan yang tak pasti seperti ini, sangat tidak baik zakiya.. hanya akan menambah dosa kita. Saya bemaksud melamarmu” Pyarrrr......... bagai hancur luluh lantang hati zakiya, air matanya turun dengan tiba-tiba, dia tak bisa menahannya lagi. “kamu akan melamarku andi,,Benarkah?” dia mencoba tersenyum, dia berpura-pura menangis bahagia. “benar zakiya, apa kau bersedia?”. “Ya Allah... kenapa bukan Arsyil yang dihadapanku sa’at ini? Aku harus bagaimana Ya Rabb” rintih zakiya dalam hatinya. “zakiya? Kau baik-baik saja?” “tentu Andi, aku baik-baik saja. emm... bisakah kamu memberiku waktu?”. “tentu saja zakiya, aku akan menunggumu. Berapa lama waktu yang kamu butuhkan?. “3 hari, bolehkah?” “baiklah zakiya. Kalau begitu aku rasa cukup itu yang aku sampaikan kepadamu. Aku rasa sebaiknya aku pulang sekarang”. “baiklah Andi, trimakasih atas pengertianmu”. “sama-sama zakiya. Sampaikan salamku pada fara. Assalamualaikum”. “Waalaikumsalam”.
Dan akhirnya hari itu datang juga, zakiya memutuskan untuk bersedia menikah dengan Andi, dia berharap dia akan bahagia bersama andi. Hari ini, banyak tamu yang di undang, apalagi dari kalangan dokter, itu tidak menutup kemungkinan, karena Andi memang seorang dokter. 1 minggu dari prosesi lamaran, pernikahan mereka dilangsungkan.
“apa kamu bahagia zakiya?” tanya fara sahabatnya. “aku akan bahagia jika memang ini takdir Allah sahabatku....”.”tapi, bagaimana dengan Arsyil.. bukankah kamu mencintainya?”. “aku memang mencintai Arsyil, akan tetapi Andi adalah orang yang menyayangiku, aku tidak mau andi merasakan apa yang telah aku rasakan. Dan aku rasa, Arsyil akan bahagia bersama nisa.. nisa sangat menyayanginya. Cinta itu tak harus selalu memiliki sahabatku”. “baiklah zakiya, jika memang ini keputusanmu. Semoga kamu bahagia”. “Aminn,, trimakasih atas doanya fara”.”sekarang, waktunya kamu keluar zakiya, akad nikah akan segera dimulai, jangan membuat banyak orang lama menuggumu. Kamu siap??”.”baiklah, BISMILLAH.. aku siap sahabatku”. Mereka keluar menemui para undangan, tidak terkecualikan Arsyil.. meski dia bukan seorang dokter, Arsyil adalah teman SMA Andi dan Zakiya. Arsyil tersenyum melihat zakiya, dan zakiya yang hanya terdiam seakan tak percaya atas kehadiran Arsyil dalam acara pernikahannya. Dia hendak menangis, tapi dia berhasil menenangkan suasana hatinya. “Bismillah Ya Allah....... “ ucap zakiya. Lalu zakiya duduk disamping Andi, dan akad itu akan segera dimulai. Saat penghulu meminta tangan Andi, andi hanya terdiam. “bukan saya yang berhak meraih tangan bapak. Percuma saja, saya menikahi wanita disamping saya ini. Kalau saya tak mampu memiliki hatinya. Hanya lelaki pujaannya yang berhak menikahinya.”.”Andi, apa maksudmu?” tanya zakiya keheranan. “zakiya, maafkan aku.. aku telah membuatmu hampir mengorbankan cintamu. Kamu memang wanita yang luar biasa, sungguh beruntung lelaki yang akan menikahimu nanti”. “ada apa Andi.. mari langsungkan akadnya”. “tidak zakiya, aku tidak berhak menikahimu, Arsyil.. kemarilah sahabatku.. zakiya sangat mencintaimu. Dan maafkan aku, karena selama ini, aku menghalangi cinta kalian”. “Tapi Andi.. bagaimana dengan dirimu?” tanya zakiya semakin bingung.“jangan hawatirkan aku zakiya, aku tidak mau menjadi orang yang egois. Kemarilah Arsyil.. menikahlah dengan wanita yang kamu cintai, aku akan bahagia melihat kalian bahagia”.
Dan akhirnya, zakiya menikah dengan Arsyil.. lelaki yang dicintainya. “Sungguh ini kebesaranMu Ya Allah..... aku bersyukur kepadaMu. Lelaki yang kucintai akan menjadi imam dalam hidupku. Semoga dia mampu membawaku dalam surgaMu”.(*)
Zakiya yang berlari keluar dari tempat kos-nya, dia berhenti disebuah taman. Dia duduk diatas kursi taman yang kebetulan kosong. Sore itu taman dalam keadaan sepi. “Kamu memang pemain cinta Arsyil...” teriak zakiya kesal.”sejak dulu aku menyayangimu, bahkan sampai sekarang. Tapi aku tidak berani mengatakannya, dan aku tidak menghiraukan rasa ini. Aku mencoba lupakanmu dengan menjalin hubungan bersama Andi, sampai aku mulai menyayangi andi, kamu datang dan membawa cinta. Tak pernah sedikitpun aku berfikir kamu akan mencintaiku. Karena selama kita SMA , kamu tidak pernah bersikap manis denganku, kamu selalu mengejekku, mengkritik bahkan tak jarang kamu mengajakku berdebat. Tapi anehnya, aku tak pernah benci atau dendam padamu. Aku tetap memperhatikanmu, aku tetap menghawatirkanmu bahkan aku tetap menganggapmu sahabatku. Aku sadar, dibalik sikap burukmu itu, kamu temanku yang baik. Sikapmu yang kasar itu tidak pernah melukaiku, tapi malah selalu memotifasiku. Aku selalu tersenyum dengan ejekan-ejekanmu. Aku selalu rindu hina’anmu. Tak kusangka, selama ini kau juga punya rasa padaku, kau menyuruhku menganggap semua ejekan,kritikan dan perdebatan kita itu bukti perhatianmu. Tapi kamu datang terlambat Arsyil.. Andi sangat menyayangiku, aku tak mampu mengecewakannya.. dia terlanjur menganggapku juga menyayanginya. Dan nisa.. nisa juga menyayangimu, dia merasa kalau kamu juga menyayanginya.. kenapa kita harus terjebak dalam cinta segi empat ini Arsyil??” Tak lama, Fara datang menghampiri zakiya, fara bersanding dengan zakiya. Zakiya memalingkan wajahnya, dia tak mau sahabatnya itu melihat linangan deras air matanya yang membasahi pipinya. Fara meraih wajah zakiya tepat didepan wajahnya, mata mereka saling menatap, akan tetapi zakiya mencoba berpaling. “Zakiya... ceritakan semuanya padaku, sahabatmu ini akan selalu siap mendengarkan ceritamu, bagilah dukamu itu padaku, agar kamu merasa lebih baik” “tidak fara, aku tak mau membebanimu, biarlah luka ini aku sendiri yang menanggungnya” “jangan kamu bersikap seperti itu sahabatku, aku sakit melihatmu seperti ini”
“aku harus bagaimana fara.. ternyata arsyil juga mencintaiku, tapi aku sudah terlanjur memberi harapanku pada Andi, aku tak bisa jika harus mengecewakan orang yang mencintaiku. Begitu juga dengan Arsyil, dia juga sudah terlanjur memberi harapannya pada nisa.. hatiku sakit, saat aku melihat nisa bersama Arsyil. Dan tadi, Arsyil dengan mudahnya menyuruhku melupakannya”. “zakiya, aku mengerti dengan perasaanmu saat ini, aku tahu kamu kecewa.. tapi cobalah kamu berfikir. Ini cobaan dari Allah, kamu harus sabar dan tabah. Ini cobaan untuk cinta kalian, pasrahkan segalanya kepada Allah. Percayalah, Allah tidak pernah memberi ujian kepada hambanya melebihi batas kemampuannya. Semuanya itu akan indah pada waktunya” Fara mengusap air mata zakiya, mereka saling berbalas senyuman. “trimakasih fara, kata-katamu telah menyejukkan hatiku. Benar katamu tadi, aku pasrahkan segalanya kepada-Mu Ya Allah.. J” “kalau begitu, hari sudah semakin larut.. sebaiknya kita kembali ke kamar kost kita” “baiklah fara”
“Ya Rabbi.... dalam sujudku aku bersimpuh, dalam do’aku aku memohon. Berikanlah hamba kekuatan untuk menghadapi semua ini, berikanlah hamba kesabaran untuk melalui coba’anMu. Jika memang Arsyil tercipta untuk hamba, hamba yakin cepat atau lambat kita akan bertemu. Dan jika ternyata Andi adalah jodohku, aku ikhlash Ya Rabb.. aku percaya, Andi memang yang terbaik untukku. Hamba Pasrahkan segalanya Kepada-Mu. Amin ya Robbal alamin” dalam do’a zakiya, dia melelehkan butiran air matanya. dia membaca ayat-ayat indah Allah. Semua itu lebih membuat hati zakiya semakin tenang.
Tok tok tok.. “Assalamu’alaikum” Fara membukakan pintu. “Wa’alaikum salam.. Andi? Oh ya silahkan masuk, kamu mencari zakiya ya..”. “iya fara, dapatkah aku bertemu dengannya?” “tentu Andi, tunggulah sebentar, aku akan memangilnya untukmu” “trimaksih banyak fara”.
“zakiya, Andi ingin bertemu denganmu”. “tapi fara, aku dalam keadaan seperti ini, tidak mungkin aku menemuinya. Pasti dia akan banyak bertanya padaku” “sudahlah zakiya, sudah cukup kamu menyembunyikan lukamu ini, sudah saatnya Andi tahu, katakan padanya tentang kebenaran ini. Katakan zakiya, walaupun itu menyakitkan” “tapi fara, bagaimana kalau andi kecewa?” “zakiya, lebih baik andi kecewa sekarang daripada kamu terus-terusan menyembunyikan kebenaran darinya”. “baiklah sahabatku, aku akan berkata jujur padanya. Terimaksih, karena kamu selalu menjadi sahabat terbaikku”. “sudah sepantasnya aku seperti itu padamu sahabatku”.
Zakiya, keluar menemui Andi. Dia mencoba menampakkan senyumannya, menutupi luka hatinya. “Andi, maaf jika lama menunggu” “tidak apa zakiya, aku bisa memakluminya” “oh ya, ada perlu apa kamu ingin bertemu denganku?” “begini, kurasa jangan terlalu lama kita bersama tanpa ikatan yang tak pasti seperti ini, sangat tidak baik zakiya.. hanya akan menambah dosa kita. Saya bemaksud melamarmu” Pyarrrr......... bagai hancur luluh lantang hati zakiya, air matanya turun dengan tiba-tiba, dia tak bisa menahannya lagi. “kamu akan melamarku andi,,Benarkah?” dia mencoba tersenyum, dia berpura-pura menangis bahagia. “benar zakiya, apa kau bersedia?”. “Ya Allah... kenapa bukan Arsyil yang dihadapanku sa’at ini? Aku harus bagaimana Ya Rabb” rintih zakiya dalam hatinya. “zakiya? Kau baik-baik saja?” “tentu Andi, aku baik-baik saja. emm... bisakah kamu memberiku waktu?”. “tentu saja zakiya, aku akan menunggumu. Berapa lama waktu yang kamu butuhkan?. “3 hari, bolehkah?” “baiklah zakiya. Kalau begitu aku rasa cukup itu yang aku sampaikan kepadamu. Aku rasa sebaiknya aku pulang sekarang”. “baiklah Andi, trimakasih atas pengertianmu”. “sama-sama zakiya. Sampaikan salamku pada fara. Assalamualaikum”. “Waalaikumsalam”.
Dan akhirnya hari itu datang juga, zakiya memutuskan untuk bersedia menikah dengan Andi, dia berharap dia akan bahagia bersama andi. Hari ini, banyak tamu yang di undang, apalagi dari kalangan dokter, itu tidak menutup kemungkinan, karena Andi memang seorang dokter. 1 minggu dari prosesi lamaran, pernikahan mereka dilangsungkan.
“apa kamu bahagia zakiya?” tanya fara sahabatnya. “aku akan bahagia jika memang ini takdir Allah sahabatku....”.”tapi, bagaimana dengan Arsyil.. bukankah kamu mencintainya?”. “aku memang mencintai Arsyil, akan tetapi Andi adalah orang yang menyayangiku, aku tidak mau andi merasakan apa yang telah aku rasakan. Dan aku rasa, Arsyil akan bahagia bersama nisa.. nisa sangat menyayanginya. Cinta itu tak harus selalu memiliki sahabatku”. “baiklah zakiya, jika memang ini keputusanmu. Semoga kamu bahagia”. “Aminn,, trimakasih atas doanya fara”.”sekarang, waktunya kamu keluar zakiya, akad nikah akan segera dimulai, jangan membuat banyak orang lama menuggumu. Kamu siap??”.”baiklah, BISMILLAH.. aku siap sahabatku”. Mereka keluar menemui para undangan, tidak terkecualikan Arsyil.. meski dia bukan seorang dokter, Arsyil adalah teman SMA Andi dan Zakiya. Arsyil tersenyum melihat zakiya, dan zakiya yang hanya terdiam seakan tak percaya atas kehadiran Arsyil dalam acara pernikahannya. Dia hendak menangis, tapi dia berhasil menenangkan suasana hatinya. “Bismillah Ya Allah....... “ ucap zakiya. Lalu zakiya duduk disamping Andi, dan akad itu akan segera dimulai. Saat penghulu meminta tangan Andi, andi hanya terdiam. “bukan saya yang berhak meraih tangan bapak. Percuma saja, saya menikahi wanita disamping saya ini. Kalau saya tak mampu memiliki hatinya. Hanya lelaki pujaannya yang berhak menikahinya.”.”Andi, apa maksudmu?” tanya zakiya keheranan. “zakiya, maafkan aku.. aku telah membuatmu hampir mengorbankan cintamu. Kamu memang wanita yang luar biasa, sungguh beruntung lelaki yang akan menikahimu nanti”. “ada apa Andi.. mari langsungkan akadnya”. “tidak zakiya, aku tidak berhak menikahimu, Arsyil.. kemarilah sahabatku.. zakiya sangat mencintaimu. Dan maafkan aku, karena selama ini, aku menghalangi cinta kalian”. “Tapi Andi.. bagaimana dengan dirimu?” tanya zakiya semakin bingung.“jangan hawatirkan aku zakiya, aku tidak mau menjadi orang yang egois. Kemarilah Arsyil.. menikahlah dengan wanita yang kamu cintai, aku akan bahagia melihat kalian bahagia”.
Dan akhirnya, zakiya menikah dengan Arsyil.. lelaki yang dicintainya. “Sungguh ini kebesaranMu Ya Allah..... aku bersyukur kepadaMu. Lelaki yang kucintai akan menjadi imam dalam hidupku. Semoga dia mampu membawaku dalam surgaMu”.(*)
Cerpen karya Maratul Mahmudah*
*Siswi kelas XI Bahasa
SMA Raudlatul Muta’allimin Tegalrejo Babat Lamongan
Kamis, 02 Januari 2014
Read more...
Generasi Bangsa, Ayo Sejahterakan Indonesia !
Kabarlamongan.com : Lamongan - Siapa yang tak tahu akan kekayaan negeri kita ini? Dari segi budaya, bangsa, kekayaan hewani, nabati, mineral, barang tambang, dan keragaman lainnya. Siapa juga yang akan memungkiri bahwa Indonesia adalah tanah surga? Pernyataan ini tentunya sudah sering didengar oleh kalangan pendidikan baik dari siswa, guru, maupun tenaga pendidik lainnya. Tentu hal ini seharusnya menjadi pertimbangan bagi mereka bahwa sebenarnya banyak potensi yang bisa dimanfaatkan demi kesejahteraan Indonesia. Namun pada kenyataannya, justru potensi-potensi ini lebih banyak dirasakan hasilnya oleh bangsa lain dari pada dimanfaatkan untuk bangsa sendiri. Hasil pertanian, pertambangan mentah, bahkan SDM berkualitas dikirim ke luar negeri. Lalu bagaimana nasib negeri kita yang hanya mendapat “ampas” dari kekayaan alam sendiri??
Berbanding terbalik dengan Jepang yang hanya memiliki sedikit kekayaan alam. Meski begitu, negara ini berhasil masuk dalam persaingan ekonomi dan teknologi dunia. Jepang mampu mengorganisir penduduk dan potensinya dengan baik. Mereka mengirim SDM belajar keluar negeri untuk belajar dan kemudian mengembangkan di negaranya sendiri. Mereka mengolah potensi mentah menjadi barang yang memiliki value. Pendidikan diprioritaskan demi kemajuan dan kebangkitan bangsanya. Tak heran segala sektor baik ekonomi, teknologi, dan industri dapat dikuasai.
Bisa kita lihat bagaimana kondisi negeri ini. Dengan kekayaan alam dan potensi yang dimiliki kemiskinan meraja lela. Tak seharusnya juga anak-anak putus sekolah. Pendidikan di Indonesia seharusnya tertantang untuk memanfaatkan kekayaan yang ada. Lalu bagaimana alternatif yang bisa dilakukan untuk mengatasi masalah ini?
Tak dapat dipungkiri bahwa sejuta kekayaan ada di Indonesia. Setiap daerah menyimpan SDA yang sebenarnya dapat diolah dan dimanfaatkan terus menerus oleh penduduknya. Sebut saja pulau Jawa yang meski menjadi pulau terpadat se-Indonesia namun masih dapat menghasilkan berbagai macam tanaman mulai dari sayur, buah, dan hasil perkebunan serta hasil pertanian lainnya. Masyarakat dapat mencukupi kebutuhan mereka dari hasil alam yang dikelolanya sendiri bahkan dapat mengirimnya ke luar pulau, bahkan luar negeri sekalipun. Belum lagi jika mereka mampu mengolah SDA itu menjadi lebih dari bahan mentah. Mungkin ini bisa menjadi aset yang dapat membantu negara mengentas masalah kemiskinan.
Lihatlah apel khas malang yang diolah menjadi minuman, makanan, bahkan jajanan yang mempunyai nilai tinggi di mata bangsa. Begitu pula ubi jalarnya yang semula hanya menjadi makan orang desa kini menjadi lebih bernilai ketika sudah diolah. Tempat jajanan Bakpao Telo di lawang misalnya. Berbagai olahan bakpao bisa kita temukan disana mulai dari kripik, bakpao, brownies, jenang, dan masih banyak lainnya. Tentunya kualitas dan kreativitas ini tak bisa dibayar dengan harga murah. Coba bayangkan seandainya penduduk Indonesia mampu berfikir dan berkreatifitas dengan hasil SDA dan kekayaan yang ada disekitarnya. Melihat hasil alam lainnya juga, laut; tambang; biogas; dan lain-lain, bukan mustahil Indonesia menjadi negara maju.
Begitu banyak kekayaan Indonesia yang kita miliki. Dengan melihat jumlah penduduk di Indonesia harusnya negara tak kualahan untuk mengolah bahan-bahan mentah. Salah satu masalah yang seharusnya patut dibenahi adalah SDM Indonesia. Minimnya hal itu menyebabkan Indonesia tertinggal dengan negara sebelah. 63 tahun sudah kita menjadi negara statis yang hanya puas dengan predikat “Negara Berkembang”. Bukan itu sebenarnya harapan dari pendahulu kita yang mati-matian berjuang demi kemerdekaan. harusnya kita bisa lebih dari sekarang. Harusnya kita mulai berbenah.
Harapan tertuju pada generasi bangsa. Hanya pada mereka, para siswa dan mahasiswa, masa depan bangsa dipertaruhkan. Jadikan bumi Indonesia ini bukan untuk dikeruk, tapi dimanfaatkan dan dilestarikan. Untuk itu, bidang pendidikan berperan penting dalam kesejahteraan bangsa. Mutu pendidikan menjadi titik terpenting agar penerus bangsa ini dapat menjadi SDM yang berkualitas nantinya. Sekolah tidak hanya sebagai rutinitas tetapi harus benar-benar dipahami dan diterapkan ilmunya. Siswa boleh memilih bidang yang mereka suka. Namun guru dan orang tua harus mendukung, mengarahkan dan memfasilitasi agar mereka menjadi professional di bidangnya. Hal ini tentunya akan berpengaruh pada kreatifitas yang dihasilkan anak ketika mereka dewasa. Misal, Siswa SMK jurusan otomotif atau mesin yang telah mendapat pendidikan dari guru dan orang tua. Tak mustahil ia bisa menjadi pengolah barang tambang ataupun insinyur yang dapat memperbaiki pembangunan Indonesia. Seorang mahasiswa jurusan perikanan atau peternakanpun punya masa depan cerah jika mereka mampu memanfaatkan ilmunya. Sudah barang tentu karena Indonesia adalah negara agraris sekaligus maritim yang kaya akan SDA-nya.
Lalu bagaimana membuat generasi bangsa ini mencintai pendidikan yang dilakoninya? Inilah salah satu masalah yang juga harus dibenahi. Banyak kita temukan mahasiswa yang tak mengetahui prospek jurusan yang diambilnya. Tak sedikit pula kita temukan mahasiswa yang menjadikan jurusannya sebagai pelarian karena tidak diterima di kedokteran, misalnya. Kadang ada juga yang malu mengakui jurusan tempat ia berkuliah. Dan inilah momok yang akan menjadikan mereka tak dapat berkontribusi untuk bangsa dan negara. Karena malu, malas, dan ketidakjelasan pada akhirnya pendidikan hanya dianggap rutinitas belaka. Ilmu tidak dipraktekkan dan hilang begitu saja setelah lulus. Jika seperti itu, Indonesia akan menjadi negeri yang hanya bisa merangkak sementara lainnya telah berlari menuju kemajuan.
Salah satu hal yang bisa dilakukan untuk meningkatkan kualitas generasi bangsa yakni membuat mereka tertarik dengan jurusan yang dipilih. Hal ini dilakukan agar mereka dapat fokus dan nantinya mereka menjadi orang-orang yang professional di bidangnya. Dengan menghargai ilmu dan keterampilan yang dimiliki, tentu seseorang akan dapat berkontribusi bagi bangsa. Tanamkan keyakinan bahwa Indonesia adalah Negara yang kaya. Baik dari bidang kelautan, pertanian, seni, budaya, bahasa, dan lain sebagainya.
Tidak perlu ada rasa khawatir seharusnya. Mahasiswa dari jurusan kesenian tentunya dapat mengolah segala macam SDA bahkan sampahpun bisa menjadi barang yang bernilai jual tinggi. Kulit jagung misalnya, bisa di buat menjadi hiasan ruang atau asesoris yang menawan. Eceng gondokpun bisa menjadi tas dan sandal. Bukankah ini juga bisa mejadi teladan untuk lebih banyak berkreasi dengan kekayaan Indonesia yang lain? tambang misalnya. Besipun dapat bernilai lebih jika dijual menjadi berbagai macam pernak-pernik dari pada mentah. Berpikirlah untuk minyak bumi, kayu, ikan, bahasa, budaya, dan kekayaan lainnya apabila generasi bangsa kita cinta dengan pendidikan yang dijalaninya saat ini. Kesejahteraan bangsa mungkin bukan menjadi hal mustahil lagi.
Dikirim Oleh Ria Ana Safitri
Berbanding terbalik dengan Jepang yang hanya memiliki sedikit kekayaan alam. Meski begitu, negara ini berhasil masuk dalam persaingan ekonomi dan teknologi dunia. Jepang mampu mengorganisir penduduk dan potensinya dengan baik. Mereka mengirim SDM belajar keluar negeri untuk belajar dan kemudian mengembangkan di negaranya sendiri. Mereka mengolah potensi mentah menjadi barang yang memiliki value. Pendidikan diprioritaskan demi kemajuan dan kebangkitan bangsanya. Tak heran segala sektor baik ekonomi, teknologi, dan industri dapat dikuasai.
Bisa kita lihat bagaimana kondisi negeri ini. Dengan kekayaan alam dan potensi yang dimiliki kemiskinan meraja lela. Tak seharusnya juga anak-anak putus sekolah. Pendidikan di Indonesia seharusnya tertantang untuk memanfaatkan kekayaan yang ada. Lalu bagaimana alternatif yang bisa dilakukan untuk mengatasi masalah ini?
Tak dapat dipungkiri bahwa sejuta kekayaan ada di Indonesia. Setiap daerah menyimpan SDA yang sebenarnya dapat diolah dan dimanfaatkan terus menerus oleh penduduknya. Sebut saja pulau Jawa yang meski menjadi pulau terpadat se-Indonesia namun masih dapat menghasilkan berbagai macam tanaman mulai dari sayur, buah, dan hasil perkebunan serta hasil pertanian lainnya. Masyarakat dapat mencukupi kebutuhan mereka dari hasil alam yang dikelolanya sendiri bahkan dapat mengirimnya ke luar pulau, bahkan luar negeri sekalipun. Belum lagi jika mereka mampu mengolah SDA itu menjadi lebih dari bahan mentah. Mungkin ini bisa menjadi aset yang dapat membantu negara mengentas masalah kemiskinan.
Lihatlah apel khas malang yang diolah menjadi minuman, makanan, bahkan jajanan yang mempunyai nilai tinggi di mata bangsa. Begitu pula ubi jalarnya yang semula hanya menjadi makan orang desa kini menjadi lebih bernilai ketika sudah diolah. Tempat jajanan Bakpao Telo di lawang misalnya. Berbagai olahan bakpao bisa kita temukan disana mulai dari kripik, bakpao, brownies, jenang, dan masih banyak lainnya. Tentunya kualitas dan kreativitas ini tak bisa dibayar dengan harga murah. Coba bayangkan seandainya penduduk Indonesia mampu berfikir dan berkreatifitas dengan hasil SDA dan kekayaan yang ada disekitarnya. Melihat hasil alam lainnya juga, laut; tambang; biogas; dan lain-lain, bukan mustahil Indonesia menjadi negara maju.
Begitu banyak kekayaan Indonesia yang kita miliki. Dengan melihat jumlah penduduk di Indonesia harusnya negara tak kualahan untuk mengolah bahan-bahan mentah. Salah satu masalah yang seharusnya patut dibenahi adalah SDM Indonesia. Minimnya hal itu menyebabkan Indonesia tertinggal dengan negara sebelah. 63 tahun sudah kita menjadi negara statis yang hanya puas dengan predikat “Negara Berkembang”. Bukan itu sebenarnya harapan dari pendahulu kita yang mati-matian berjuang demi kemerdekaan. harusnya kita bisa lebih dari sekarang. Harusnya kita mulai berbenah.
Harapan tertuju pada generasi bangsa. Hanya pada mereka, para siswa dan mahasiswa, masa depan bangsa dipertaruhkan. Jadikan bumi Indonesia ini bukan untuk dikeruk, tapi dimanfaatkan dan dilestarikan. Untuk itu, bidang pendidikan berperan penting dalam kesejahteraan bangsa. Mutu pendidikan menjadi titik terpenting agar penerus bangsa ini dapat menjadi SDM yang berkualitas nantinya. Sekolah tidak hanya sebagai rutinitas tetapi harus benar-benar dipahami dan diterapkan ilmunya. Siswa boleh memilih bidang yang mereka suka. Namun guru dan orang tua harus mendukung, mengarahkan dan memfasilitasi agar mereka menjadi professional di bidangnya. Hal ini tentunya akan berpengaruh pada kreatifitas yang dihasilkan anak ketika mereka dewasa. Misal, Siswa SMK jurusan otomotif atau mesin yang telah mendapat pendidikan dari guru dan orang tua. Tak mustahil ia bisa menjadi pengolah barang tambang ataupun insinyur yang dapat memperbaiki pembangunan Indonesia. Seorang mahasiswa jurusan perikanan atau peternakanpun punya masa depan cerah jika mereka mampu memanfaatkan ilmunya. Sudah barang tentu karena Indonesia adalah negara agraris sekaligus maritim yang kaya akan SDA-nya.
Lalu bagaimana membuat generasi bangsa ini mencintai pendidikan yang dilakoninya? Inilah salah satu masalah yang juga harus dibenahi. Banyak kita temukan mahasiswa yang tak mengetahui prospek jurusan yang diambilnya. Tak sedikit pula kita temukan mahasiswa yang menjadikan jurusannya sebagai pelarian karena tidak diterima di kedokteran, misalnya. Kadang ada juga yang malu mengakui jurusan tempat ia berkuliah. Dan inilah momok yang akan menjadikan mereka tak dapat berkontribusi untuk bangsa dan negara. Karena malu, malas, dan ketidakjelasan pada akhirnya pendidikan hanya dianggap rutinitas belaka. Ilmu tidak dipraktekkan dan hilang begitu saja setelah lulus. Jika seperti itu, Indonesia akan menjadi negeri yang hanya bisa merangkak sementara lainnya telah berlari menuju kemajuan.
Salah satu hal yang bisa dilakukan untuk meningkatkan kualitas generasi bangsa yakni membuat mereka tertarik dengan jurusan yang dipilih. Hal ini dilakukan agar mereka dapat fokus dan nantinya mereka menjadi orang-orang yang professional di bidangnya. Dengan menghargai ilmu dan keterampilan yang dimiliki, tentu seseorang akan dapat berkontribusi bagi bangsa. Tanamkan keyakinan bahwa Indonesia adalah Negara yang kaya. Baik dari bidang kelautan, pertanian, seni, budaya, bahasa, dan lain sebagainya.
Tidak perlu ada rasa khawatir seharusnya. Mahasiswa dari jurusan kesenian tentunya dapat mengolah segala macam SDA bahkan sampahpun bisa menjadi barang yang bernilai jual tinggi. Kulit jagung misalnya, bisa di buat menjadi hiasan ruang atau asesoris yang menawan. Eceng gondokpun bisa menjadi tas dan sandal. Bukankah ini juga bisa mejadi teladan untuk lebih banyak berkreasi dengan kekayaan Indonesia yang lain? tambang misalnya. Besipun dapat bernilai lebih jika dijual menjadi berbagai macam pernak-pernik dari pada mentah. Berpikirlah untuk minyak bumi, kayu, ikan, bahasa, budaya, dan kekayaan lainnya apabila generasi bangsa kita cinta dengan pendidikan yang dijalaninya saat ini. Kesejahteraan bangsa mungkin bukan menjadi hal mustahil lagi.
Dikirim Oleh Ria Ana Safitri
Minggu, 15 Desember 2013
Read more...
Puisi : Jerit Alam Ku
Seperti ujung sabit
Diderapun tetap menelusup disetiap sela
Bumiku keronta dan terlunta
Secangkir embun diteguk dusta
Semusim semi daunpun gugur
Teriakan putih di sekelebat nafsu
Dinding retak mencabar duka
Parau kau ucapkan
Sumbang kau lantunkan
Pembual berkedok mantra
Sayu kulihat sekeliling
Pucat kuraba kening
Lontarkan buih janji
Sampai detik meniti
Tak sedikit yang ditepati
Tengok sampah desa
Tengok kaki jalan
Terlunta di kecam alam
Titikpun tak seterang janji
Bualan suara petinggi alam
Puisi Oleh : ghoffar Shiddiq Cahyono.
Silahakan lihat puisi - puisi karya seniman Lamongan disini.
Diderapun tetap menelusup disetiap sela
Bumiku keronta dan terlunta
Secangkir embun diteguk dusta
Semusim semi daunpun gugur
Teriakan putih di sekelebat nafsu
Dinding retak mencabar duka
Parau kau ucapkan
Sumbang kau lantunkan
Pembual berkedok mantra
Sayu kulihat sekeliling
Pucat kuraba kening
Lontarkan buih janji
Sampai detik meniti
Tak sedikit yang ditepati
Tengok sampah desa
Tengok kaki jalan
Terlunta di kecam alam
Titikpun tak seterang janji
Bualan suara petinggi alam
Puisi Oleh : ghoffar Shiddiq Cahyono.
Silahakan lihat puisi - puisi karya seniman Lamongan disini.
Kamis, 12 Desember 2013
Read more...
Pembagian Kondom, Mau Dibawa Kemana Bangsa Ini
Kabarlamongan.com : Lamongan - Seperti dikutip dalam kompas, penolakan pembagian kondom tampak terus mengalir.
Logika simpel. Mari kita merenung.
“Itu si apa, kok ada orang bagi-bagi gratis?” Tanya adikku kepadaku, sambil menunjuk orang yang sedang membagikan kondom.
“Oh, itu ada orang dari pemerintah yang sedang bagi-bagi -hmmmmm aku bingung mau jawab apa, yang akhirnya aku jawab saja- kondom.” Jawabku.
“Kondom si buat apa kak?” Tanya dia balik.
“Hmm –lagi-lagi aku dibuat bingung-, buat ‘mengamankan’ hubungan seksual, biar nggak ketularan AIDS.” Jawabku sekenanya.
“Oh, jadi sama pemerintah yang ngebagi kondom itu, yang dapet disuruh buat berhubungan seksual ya? Kok sampai-sampai dapet kondom gitu.”
“zzzzzzzzzzzzttttttttttt.”
Entah bagaimana pendapat di benak masing-masing pembaca. Pembagian Kondom Gratis. Ah, apa pula ini? Buat apa? Mencegah AIDS, yang berarti menghalalkan Sex Bebas? Entah, apa maksud pemerintah yang pada hal ini merujuk pada Kementerian Kesehatan di bawah kepemimpinan Nafsiah Mboi.
Rencananya, Komisi Penganggulangan AIDS Nasional (KAPN) akan membagikan kondom dari tanggal 1 sampai dengan 7 Desember 2013. Salah satu kegiatan dalam acara ini adalah pembagian kondom gratis kepada pelajar, mahasiswa, dan masyarakat.
Jika kemudian banyak pasangan muda-mudi yang tertangkap aparat keamanan karena mereka sedang melakukan ritual ‘pesta sex’, pasangan muda-mudi tersebut bisa berkelakar; “Maaf, pak, bu, aparat. Kita sedang mencoba kondom yang diberikan pemerintah, kita nggak mau membiarkan barang mubazir pak. Ini resmi dari pemerintah lho pak.” Dan, nggak tahu gimana tuh tanggapan aparat yang melakukan sweeping.
Hey, inilah bangsa kita, bangsa yang abu-abu. Disaat kita sedang mengalami degradasi moral, dengan ‘elegannya’ pemerintah membagikan kondom. Masih ingat kasus anak SMP di Jakarta yang melakukan adegan porno? Masih ingat kejadian anak SMP menjadi ‘mucikari’ di Surabaya? Dan mungkin masih banyak kasus anak-anak yang melakukan tindakan asu-sila.
Seharusnya yang dibangun pemerintah bukan menyediakan kondom gratis, bukan itu. Tapi pemerintah bersama dengan elemen masyarakat mencoba menanamkan nilai agama; nilai moral, agar bangsa kita terhindar dari permasalahan tersebut. (Kembali) entah seperti lagu yang dibawakan oleh Armada, “Mau dibawa kemana, Bangsa kita.” (ding)
Logika simpel. Mari kita merenung.
“Itu si apa, kok ada orang bagi-bagi gratis?” Tanya adikku kepadaku, sambil menunjuk orang yang sedang membagikan kondom.
“Oh, itu ada orang dari pemerintah yang sedang bagi-bagi -hmmmmm aku bingung mau jawab apa, yang akhirnya aku jawab saja- kondom.” Jawabku.
“Kondom si buat apa kak?” Tanya dia balik.
“Hmm –lagi-lagi aku dibuat bingung-, buat ‘mengamankan’ hubungan seksual, biar nggak ketularan AIDS.” Jawabku sekenanya.
“Oh, jadi sama pemerintah yang ngebagi kondom itu, yang dapet disuruh buat berhubungan seksual ya? Kok sampai-sampai dapet kondom gitu.”
“zzzzzzzzzzzzttttttttttt.”
***
Entah bagaimana pendapat di benak masing-masing pembaca. Pembagian Kondom Gratis. Ah, apa pula ini? Buat apa? Mencegah AIDS, yang berarti menghalalkan Sex Bebas? Entah, apa maksud pemerintah yang pada hal ini merujuk pada Kementerian Kesehatan di bawah kepemimpinan Nafsiah Mboi.
Rencananya, Komisi Penganggulangan AIDS Nasional (KAPN) akan membagikan kondom dari tanggal 1 sampai dengan 7 Desember 2013. Salah satu kegiatan dalam acara ini adalah pembagian kondom gratis kepada pelajar, mahasiswa, dan masyarakat.
Jika kemudian banyak pasangan muda-mudi yang tertangkap aparat keamanan karena mereka sedang melakukan ritual ‘pesta sex’, pasangan muda-mudi tersebut bisa berkelakar; “Maaf, pak, bu, aparat. Kita sedang mencoba kondom yang diberikan pemerintah, kita nggak mau membiarkan barang mubazir pak. Ini resmi dari pemerintah lho pak.” Dan, nggak tahu gimana tuh tanggapan aparat yang melakukan sweeping.
Hey, inilah bangsa kita, bangsa yang abu-abu. Disaat kita sedang mengalami degradasi moral, dengan ‘elegannya’ pemerintah membagikan kondom. Masih ingat kasus anak SMP di Jakarta yang melakukan adegan porno? Masih ingat kejadian anak SMP menjadi ‘mucikari’ di Surabaya? Dan mungkin masih banyak kasus anak-anak yang melakukan tindakan asu-sila.
***
Seharusnya yang dibangun pemerintah bukan menyediakan kondom gratis, bukan itu. Tapi pemerintah bersama dengan elemen masyarakat mencoba menanamkan nilai agama; nilai moral, agar bangsa kita terhindar dari permasalahan tersebut. (Kembali) entah seperti lagu yang dibawakan oleh Armada, “Mau dibawa kemana, Bangsa kita.” (ding)
Selasa, 03 Desember 2013
Read more...
Cerpen : Mataku Juga Matanya
Kabarlamongan.com : Lamongan - Cerpen; Bagai hujan deras yang membasahi pipi dan dengan di iringi petir yang menusuk hati ,saat dunia berkata Hamid menutup mata dalam koma karena kecelakaan tai malam. Aisyah tidak tega melihatnya terbaring di ranjang dengan melewati masa-masa sumyi yang belum sadarkan duru
Hari demi hari Aisyah lalui sendiri, tanpa Hamid yang tak seperti biasa, Hamid yang selali ceria. memberi kata-kata motivasi dan membuat semua orang tertawa dengan tingkah konyolnya serta Hamid juga yang pertama kali mengajari Aisyah tentang apa itu cinta. Namun dalam setiap sujud Aisyah tak luput do’a kesembuhan untuknya.
Bagai hujan deras yang membasahi pipi dan dengan di iringi petir yang menusuk hati ,saat dunia berkata Hamid menutup mata dalam koma karena kecelakaan tadi malam. Aisyah tidak tega melihatnya terbaring di ranjang dengan melewati masa-masa sunyi yang belum sadarkan diri Hari demi hari Aisyah lalui sendiri, tanpa Hamid yang tak seperti biasa, Hamid yang selalu ceria. memberi kata-kata motivasi dan membuat semua orang tertawa dengan tingkah konyolnya serta Hamid juga yang pertama kali mengajari Aisyah tentang apa itu cinta. Namun dalam setiap sujud Aisyah tak luput do’a kesembuhan untuknya.
Titit…titit” suara Hp membuyarkan lamuan Aisyah dan betapa terkejutnya ia membaca inbox yang berisi bahwa Hamid menang melawan masa komanya, lalu Aisyah segera bergegas menuju Rumah Sakit dimana Hamid dirawat. Setelah sampai di depan kamar, Aisyah melihat banyak sekali sahabat-sahabat akrab Hamid disana.
“ Assalamu’alaikum…”
“ Wa’alaikum salam ” serempak sahabat-sahabt Hamid menjawab salam Aisyah, lalu satu persatu sahabatnya pulang dam kini hanya ada Aisyah, Hamid dan Ridwan sahabat karib Hamid sejak kecil.
“ Bagaimana kondisi kakak “ Tanya Aisyah kepada Hamid yang dari tadi diam dengan pandangan kosong.
“ Buruk “ jawab Hamid singkat
“ Kenapa “
“ Aku bukanlah Hamid yang dulu, kini semua berbeda, tak ada harapan untuk masa depan “
“ Maksudnya “ Tanya Aisyah dengan kebingungan.
“ Sekarang aku tidak bisa melihat indahnya dunia, walau hanya secercah cahaya dan kakiku juga tidak bisa menginjak tanah untuk melangkah.” Jawab Hamid dengan penuh kesedihan di wajahnya.
“ Jadi…” Belum selesai Aisyah menjawab. Hamid sudah memotong pembicaraanya seakan-akan tahu apa yang akan Aisyah katakan.
“ Ya, aku buta dan lumpuh Sekarang aku melangkah dengan perasaan dan berjalan sambil menggunakan empat roda.”jawab Hamid dengan sedikit senyum yang mencerminkan kepedihan sedangkan Ridwan yang dari tadi menjaga diamnya lalu membiarkan perlahan-lahan air matanya brelomba-lomba menetes begitu saja.
Seusai Hamid keluar dari Rumah Sakit. Dia ingin bertemu dengan Aisyah di taman, katanya ada yang ingin Hamid sampaikan. Entah apa, Aisyah juga tidak tau tapi Aisyah berharap kabar baik yang ingin ia dengar. Setelah sampai di taman Aisyah melihat Hamid yang duduk di kursi roda dengan di temani Ridwan disampingnya. Aisyah tidak tega melihat kondisi Hamid yang sekarang ini. Namun semua itu tidak mengubah sedikitpun rasa dihatinya, setelah itu Aisyah mendekati mereka lalu mengawali pembicaraan.
“ Maaf, membuat kakak menunggu. “ kata Aisyah kepada Hamid dan Ridwan
“ Tidak Aisyah, kami juga baru datang.”jawab Ridwan dengan nada santai.
“ Aisyah.”
“ Ya kak ada apa, apa yang ingin kakak sampaikan kepadaku. “ Tanya Aisyah kepada Hamid
“ Ku rasa mungkin hubungan kita (Ta’arufan) sudah cukup sampai disini, Aisyah kamu kan tau sendiri dengan kondisi ku yang sekarang ini tidak ada yang bisa di harapkan.Aku cacat. “ panjang lebar Hamid menjawab pertanyaan Aisyah.
“ Tapi bagiku fisik bukanlah sgalanya dan dimataku kak Hamid tetap sempurna. Aku menyukai kaka apa adanya, kakak yang pertama di hidupku dan aku ingin kakak yang jadi calon imamku kak. “jawab Aisyah dengan linangan air mata.
“ Aku juga menyukaimu Aisyah, tapi maaf carilah penggantiku yang pantas untukmu. “ jawab Hamid walau berat mengungkapkannya.
Lalu Hamid dan Ridwan berlalu meninggalkan Aisyah sendiri dengan air matanya. Semenjak kejadian itu keduanya tidak pernah berkomunikasi apalagi memberi kabar satu sama lain. Walaupun keduanya saling menyukainya, suatu hari ada seseorang yang mau mendonorkan matanya untuk Hamid. Ketika Hamid sudah bias melihat kembali. Ia ingin menemui Aisyah karena Hamid merindukanya dan masih sangat menyukainya.
“ Hamiddd.” Teriak Ridwan memanggil Hamid yang akan pergi menemui Aisyah.
“ ( Sambil menyodorkan sebuah surat ) Dari Aisyah sebelum dia meninggal. “
“ Apa, Aisyah meninggal, tidak mungkin kau pasti bercandakan Ridwan.”jawab Hamid yang seolah-olah takpercaya.
“ Baca saja suratnya. “ suruh Ridwan kepada Hamid. Lalu perlahan-lahan Hamid membuka surat itu dan membacanya.
“Assalamu’alaikum…Mungkin setelah kak Hamid membaca surat ini. Aku sudah tidak ada, karena penyakit kanker hati yang ku derita ini tidak bisa disembuhkan lagi. Tapi aku senang bias mengenal kakak, terima kasih atas kata-kata motivasinya dan sgala tingkah konyol kakak yang selalu membuat ku tertawa. Tak lupa juga terima kasih telah mengajariku tentang apa itu cinta. Aku menyukai kakak apa adanya dan itu semua karma ALLAH dan hari ini adalah hari terakhirku menghirup udara di bumi karena aku sudah tidak kuat menahan kanker hati ini. Walaupun aku tlah tiada namun aku masih bisa melihat dunia, karena MATAKU JUGA MATA kakak. Jaga baik-baik ya kak, karena mataku akan menemani kakak untuk melihat dunia ini kembali,,,Dariku Aisyah.”
Setelah Hamid membaca surat dari Aisyah, air matanya deras mengalir beitu saja dan sekarang dia mengerti siapa pendonor mata untuknya.Yaitu tak lain adalah Aisyah. Mata yang memancarkan keindahan itu sekarang tema baginya saat melihat dunia ketika suka dan duka.
By ; Ita ayu ningsih ( Siswi XI-Bahasa SMA RAUDLATULMUTA’ALIMIN )
Senin, 25 November 2013
Read more...
Recently Commented
Recent Entries
Info Persela
Berita Lamongan Jawa Timur Terkini
Diberdayakan oleh Blogger.
